by

Jaga Kualitas Siswa, SMK Muhammadiyah Lakukan Praktek Laboratorium

Ambon, BKA- Sekolah kejuruan merupakan satuan tingkat pendidikan yang paling terdampak Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), yang diberlakukan pemerintah di masa pandemi Covid-19.

Karena tidak semua mata pelajaran bisa dilakukan secara Daring. Misalnya mata pelajaran praktik.

Kepala SMK Muhammadiyah Ambon, Sitti Hajar Tukan, mengungkapkan, untuk menjaga anak-anak didik tetap berkualitas, maka pihaknya mengambil kebijakan untuk tetap melakukan praktikum secara tatap muka di laboratorium, untuk jenis mata pelajaran praktik, guna menjaga anak-anak didiknya tetap memiliki ketrampilan pada bidang ilmu masing-masing.

Sedangkan khusus untuk mata pelajaran yang bersifat teori, bisa dilakukan secara Daring maupun Belajar Dari Rumah (BDR).

“Untuk pembelajaran di Provinsi Maluku, khususnya Kota Ambon, mati total. Dalam arti, 99,9 persen itu PJJ dan sisanya itu belajar di rumah. Sehingga untuk SMK, apa pun itu, kita harus mengambil langka, karena sekolah ini adalah sekolah kejuruan. Dimana saat peserta didiknya keluar atau tamat, nantinya mereka langsung masuk ke dunia perindustrian atau dunia kerja yang ada. Jadi saya mengatakan kepada para guru untuk pelayanan terhadap peserta didik, itu harus tetap berjalan. Yanga mana untuk mata pelajaran muatan nasional tetap dengan Daring. Kalau untuk praktik, itu teorinya dikasih secara daring, nanti praktik laboratorium itu secara tatap muka per shift. Misalnya 30 siswa, bararti 3 shift dan tetap dengan protokol kesehatan, memakai masker, mencuci tangan dan lain-lain,” ungkap Tukan, diruang kerjanya, Selasa (19/1).

Sebagai sekolah kejuruan, Tukan mengatakan, anak-anak didik tidak bisa hanya mengandalkan belajar mengajar secara teori. Perlu juga praktek secara tatap muka.

Jika kebijakan itu tidak diambil, dia khawatir, lulusan SMK tersebut tidak memiliki kompotensi sesuai dengan bidang ilmunya. Sehingga akan memberikan dampak bagi anak-anak ketika mencari pekerjaan. Padahal, harapan pemerintah maupun orangtua, ketika lulus, siswa SMK sudah memiliki kompetensi yang sesuai dengan permintan dunia industri.

“Memang itu hal-hal yang kita antisipasi. Karena kalau kita lihat, anak pada saat dia keluar dan tidak memiliki kompetensi, otomatis harapan pemerintah, harapan orangtua, untuk bagaimana menghadapi era 4.0 hilang. Jadi dia harus siap saat masih sekolah. Pemerintah sekarang lebih fokus ke SMK, sehingga skill-nya harus dipersiapkan dari sekarang. Mereka harus terbiasa turun ke dunia industri untuk praktik. Sehingga saat ini kami mengambil langkah, bagaimana mengupayakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) itu dapat berjalan dengan maksimal. hanya saja kehadiran dunia industri dan dunia kerja kan tidak mau mengambil resiko, karena saat turun, entah nantinya di kantor tersebut melakukan protokoler kesehatan, tapi orangtua maupun pihak kantor juga khawatir dengan mereka. Jadi kita fokus pada kolaborasi kurikulum. Mudah-mudahan bisa jalan pada semester ini,” beber Tukan.

Kendati demikian, dia berharap, belajar tatap muka cepat dilakukan, meskipun menggunakan protokol kesehatan yang ketat. karena apapun kebijakan sekolah, tidak mampu menyaingi kualitas dari belajar tatap muka.

“Kita berkeinginan untuk belajar tatap muka, karena SMK yang paling merasakan dampak Covid-19, jika tetap lakukan PJJ. Belajar mengajar, praktek jalan, tapi kehadiran anak-anak masih minim saat praktek, karena orangtua juga ragu dengan kondisi ini. Jadi mau dengan aturan seperti apa, kita harapkan dinas provinsi maupu kota bisa ambil kebijakan untuk belajar tatap muka,” pintanya. (LAM)

Comment