by

Jaksa Sita Bukti, Terkait Kasus Korupsi di SMK 3 Malteng

Ambon, BKA- Pasca ditetapkannya Kepsek SMK Negeri 3 Malteng, R.L sebagai tersangka pada kasus dugaan tindak pidana korupsi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tahun 2015-2017, penyidik Kecabjari Banda Neira langsung melakukan penyitaan terhadap beberapa dokumen.

“Ada beberapa dokumen yang kita sita. Misalnya, dari SK tersangka menjabat sebagai kepsek, LPJ dana BOS, rekening koran, dan juga beberapa dokumen lain. Terakhir waktu kita tetapkan RL sebagai tersangka, saya sita beberapa kwitansi pembelian 20 Unit komputer dengan harga Rp.150 juta,” ungkap Kacabjari Banda Neira, Ardian Junaedi, ketika dikonfirmasi BeritaKota Ambon, Senin (21/12).

Menurutnya, bukti-bukti dokumen tersebut disita untuk didalami, sejauh mana peran tersangka dalam melakukan perbuatan melawan hukum pengeloaan dana BOS itu.

“Saya sita ada beberapa dokumen, saya dalami bukti yang ada, biar penyidikan labih cepat tuntas,” jelas Ardian.

Sejauh ini, ungkapnya, tersangka bersikap sangat kooperatif dalam memberikan keterangan di hadapan penyidik.

“Tersangka sangat kooperatif. Makanya kita yakin kasus ini cepat saja disidangkan di Pengadilan. Kemudian terakhir, sesuai pengakuan tersangka, dia akan mengembalikan kerugian keuangan negara dalam perkara ini,” pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, Kacabjari Banda Neira, resmi menetapkan Kepala SMK Negeri 3 Kabupaten Maluku Tengah (Malteng), RL, sebagai tersangka utama dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tahun anggaran 2015-2019.

Penetapan RL sebagai tersangka berdasarkan pengusutan yang dilakukan Kacabjari Banda selama 6 Bulan, yang menemukan sejumlah bukti yang dianggap cukup kuat.

“Jadi, karena dalam penyidikan bukti yang mengarah kepada RL kuat, ya kita langsung tetapkan yang bersangkutan sebagai tersangka dalam perkara ini,” ungkap Ardian, kepada BeritaKota Ambon via seluler, Minggu (6/12).

Dia berujar, untuk hasil audit dari BPKP Perwakilan Maluku, jumlah kerugian keuangan negara dalam perkara ini sebesar Rp 600 juta lebih. Dan tentu saja, perbuatan tersangka telah melakukan perbuatan melawan hukum atau tindak pidana korupsi memperkaya diri sendiri.

Modusnya, pada tahun 2015-2019, SMK Negeri 3 Malteng di Banda Neira mendapat kucuran dana BOS dari pemerintah, untuk dipergunakan bagi kepentingan sekolah, sesuai dengan petunjuk teknis (Juknis) dana BOS.

Akan tetapi yang terjadi di lapangan, tersangka mengelolah uang dana BOS tersebut tidak sesuai juknis. Misalnya, melakukan mark-up, pencarian fiktif, tanda tangan yang dipalsukan untuk pencairan uang guru-guru honor.

“Modusnya ada beberapa, misalnya, pencairan dana BOS untuk penerima honor untuk guru, ternyata tanda tangan guru itu dipalsukan. Pertanggujawaban juga tidak sesuai dengan kwintasi yang sah. Jadi ada beberapa modus itu dilakukan tersangka,” jelasnya.

Jaksa dengan satu bunga melati itu berharap, penetapan tersangka tersebut dapat membuat RL kooperatif dalam proses hukum yang berjalan. Sebab tujuan dari penegakan hukum bukan hanya pidana atau memenjarakan orang, tapi juga upaya pengembalian kerugian keuangan negara.

“Harapan saya, semoga ada pengembalian kerugian negara, sehingga ada pemulihan uang negara. Kemudian, tersangka RL dijerat dengan pasal 2 dan pasal 3, jo pasal 18 UU Nomor 31 tahun 1999, jo UU Nomor 20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi, jo pasal 64 KUHP,” tandasnya. (SAD).

Comment