by

Jaksa Teliti Berkas 24 Tersangka Kasus Tudingan Santet

Ambon, BKA- Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri SBB mulai meneliti berkas perkara kasus dugaan tindak pidana Pengancaman, Pengrusakan, dan Pembakaran terkait tudingan santet yang menyeret 24 tersangka.

Kasi Pidum Kejari SBB, Junita Sahetapy yang dikonfirmasi koran ini mengatakan, untuk berkas perkara tersebut, JPU masih meneliti berkas, lantas baru saja menerima berkas tahap I dari penyidik Satreskrim Polres SBB dua pekan yang lalu.
“Kita (JPU), sampai saat ini masih meneliti berkas perkara 24 tersangka ini, karena memang, penyidik baru saja melakukan tahap I beberapa minggu lalu,” ungkap Junita, Kamis kemarin.
Dia mengaku, untuk langkah selanjutnya, JPU masih terus meneliti berkas, dan kalau sudah lengkap.JPU akan kembalikan ke penyidik sesuai petunjuk yang ada.
“Nanti kalau belum lengkap, kita serahkan ke penyidik disertai petunjuk jaksa,”pungkasnya.

Sebelumnya, Setelah melakukan perampungan berkas, penyidik Satreskrim Polres SBB, melakukan tahap I atas kasus dugaan tindak pidana Pengancaman, Pengrusakan, dan Pembakaran terkait tudingan santet yang menyeret 24 tersangka ke Jaksa Penuntut umum (JPU) Kejari SBB.

“Jadi kasus Pengancaman, Pengrusakan, dan Pembakaran saat ini penyidik sudah tahap I ke JPU,” ungkap Kasat Reskrim Polres SBB, IPTU Pieter Matahelumual,kepada koran ini,Selasa (10/11).
Menurut Perwira Polri dua Balok Emas itu, dengan pelimpahan berkas perkara tahap I, maka JPU akan meneliti berkas selama beberapa hari ke depan. Dan jika memang sudah selesai diteliti, penyidik tinggal menunggu JPU mengembalikan berkas tersebut dengan petunjuk yang ada. “Karena sudah limpah, jadi kita tinggal menunggu kembalinya berkas perkara tahap I disertai petunjuk saja,” pungkasnya.
Sebelumnya diberitakan koran ini, tim penyidik Sat Reskrim Polres SBB mulai merampungkan berkas perkara 24 tersangka akibat tudingan Santet.
24 tersangka itu yakni, CT dan RT, yang di jerat dalam kasus pengrusakan rumah milik Suzana Nikolebu warga Desa Lohiatala. Sedangkan untuk kasus pembakaran rumah milik korban Piter Touwely tersangka sebanyak delapan orang yakni, BR, GKR, AS, YAT, ST, BT, PN, PM. Sementara untuk kasus pengrusakan dan pembakaran rumah milik korban Godlief Sardely, dilakukan 14 orang tersangka, yakni, PT, CT, FR, FN, YL, PK, MM, RT, DM, AS, YAT (anak), AL( anak), GM (anak), YM (anak).

Kasat Reskrim Polres SBB, Iptu Pieter Matahelumual kepada Koran ini mengatakan, penyidik Satreskrim Polres SBB saat ini sedang merampungkan berkas perkara 24 tersangka tersebut.
“Kita sedang rampungkan berkas perkara 24 tersangka ini,” ungkap Pieter, Kamis (29/10).
Sebelumnya diberitakan, Kapolres Seram Bagian Barat (SBB),AKBP. Bayu Tarida Butar Butar didampingi Kasat Reskrim Polres SBB, Iptu Pieter Matahelumual, resmi menetapkan 24 orang tersangka dalam kasus pengancaman, pengrusakan dan pembakaran di Desa Lahiatala, Kecamatan Kairatu Barat, Kabupaten SBB.
Mereka adalah, CT dan RT, yang di jerat dalam kasus pengrusakan rumah milik Suzana Nikolebu warga Desa Lohiatala. Sedangkan untuk kasus pembakaran rumah milik korban Piter Touwely tersangka sebanyak delapan orang yakni, BR, GKR, AS, YAT, ST, BT, PN, PM. Sementara untuk kasus pengrusakan dan pembakaran rumah milik korban Godlief Sardely, dilakukan 14 orang tersangka, yakni, PT, CT, FR, FN, YL, PK, MM, RT, DM, AS, YAT (anak), AL( anak), GM (anak), YM (anak).
Kapolres SBB, AKBP, Bayu Tarida Butar Butar dalam rilis yang diterima koran ini mengatakan, kasus dengan tiga jenis tindak pidana tersebut berawal pada 10 September 2020 lalu, awalnya, saksi Riki Nikolebu salah satu warga di Desa Lohiatala mengalami kerasukan, kemudian dilakukan pelayan secara rohani oleh ibu pendeta. Dalam pelayanan itu, diduga saksi kerasukan setan akibat terserang ilmu hitam dari korban Suzana Nikolebu.
“Warga yang menyaksikan pelayanan tersebut, marah, kemudian mendatangi rumah korban Suzana Nikolebu dengan berencana akan membacok yang berangkutan namun pada saat ke rumah korban, dia tidak ada,” jelas Kapolres, Selasa (27/10).
Kapolres mengaku, selanjutnya, pada 12 September 2020, terjadi kembali perisitiwa yang sama, dengan saksi yang sama yakni Riki Nikolebu.
“Jadi setelah dilakukan pelayanan rohani untuk kedua kalinya, saksi menyebut nama-nama korban yang diduga menyerang dia dengan ilmu hitam, yakni korban Piter Touwely, Godlief Sardely, Suzana Nikolebu. Kemudian para tersangka berbondong-bonding datang ke rumah-rumah korban untuk melakukan pengrusakan, pengancaman dan pembakaran rumah ,” jelas perwira Polri dengan dua bunga melati di pundak itu.
Pasal yang dijerat masing-masing, tambah dia, tindak pidana pengrusakan dikenakan pasal 170 ayat (1) jo pasal 406 KUHP jo Pasal 55 KUHP ancaman hukuman 5 tahun. Tindak pidana pembakaran dikenakan pasal 187 KUHP, 170 KUHP jo pasal 406 KUHP jo pasal 55 KUHP ancaman hukuman 12 tahun.
Dan tindak pidana pengancaman dengan senjata tajam dikenakan pasal 335 KUHP jo pasal 2 ayat UU Darurat No. 12 tahun 1951 ancaman hukuman dengan hukum 12 tahun penjara.
“Jadi sekali lagi total tersangka ada 24 orang. Sementara 20 tersangka sudah ditahan, sedangkan 4 tersangka masih diawah umur, sehingga tidak ditahan. Dan dari hasil penyidikan, diduga ada 5 orang yang merupakan aktor utama dari kejadian tersebut, yaitu JN, CT, RT, FR, dan PT. Sedangkan untuk 4 tersangka anak dibawah umur tersebut, mereka akan dilakukan Diversi berdasarkan UU Sistim Peradilan Anak,” pungkasnya. (SAD)

Comment