by

Jaksa Terus Garap Saksi di ADD Rarat

Ambon, BKA- Penyidik Kejaksaan Cabang Negeri Seram Bagian Timur (SBT) di Geser, intens dalam penyidikan kasus dugaan korupsi ADD dan DD Rarat, Kecamatan Gorom Timur, Kabupaten SBT tahun 2017, 2018 dan 2019.

Bahkan, penyidikan kasus ini, penyidik sudah menggarap sejumlah saksi dalam kasus ini.
“Sudah beberapa saksi yang kita periksa. Kasus ini menjadi atensi kita juga,” ungkap Kacabjari Geser, Eckhart Palapia saat di konfirmasi kora ini, Rabu malam.

Dia mengaku, jika dalam penyidikan, tim penyidik sudah mengantongi bukti yang kuat, maka berkas perkara ini akan diserahkan ke pihak berwajib untuk melakukan audit.
“Jadi intinya kasus ini menjadi atensi kita,” tandasnya.

Sebelumnya, Kepala Cabang Kejari SBT di Geser, Eckhart Palapia mengatakan, tim penyidik Kecabjari Geser telah memeriksa kurang lebih 20 saksi terkait.

Pemeriksaan dilakukan, kata dia, untuk mengetahui tindak pidana korupsi ini secara terang benderang.

“Sejak kita ekspos dari tahap penyelidikan ke penyidikan, penyidik sudah periksa 20 saksi. Pemeriksaan saksi ini untuk mencari peristiwa tindak pidana ini secara terang benderang,” tandas Palapia, Minggu (25/4).

Sebelumnya,Kepala Cabang Kejari SBT di Geser, Eckhart Palapia mengatakan, kasus tersebut, telah masuk dalam tahap penyidikan. Ada tiga tahun anggaran yang menjadi masalah. Yakni, tahun 2017, 2018, dan 2019.
“Ia. Kasus ini sudah naik penyidikan. ADD dan DD tahun 2017,2018,2019. Jumlah nilainya ratusan juta rupiah,” ucap Palapia.

Ia menyebut, dari rangkaian penyelidikan hingga dinaikan status ke tahap penyidikan, penyidik menemukan adanya berbagai macam penyimpangan. Mulai dari bantuan bahan bangunan kepada masyarakat dan sejumlah kegiatan Desa yang didapati fiktif.
“Sejumlah saksi sudah diperiksa. Pejabat Desa, dan perangkatnya juga, termasuk saksi lainnya. Kita harapkan, secepatnya segera dilimpahkan,” akui dia.
Mantan Kasi Intel Kejari Saumlaki ini mengaku, dari tiga tahun anggaran itu, masing-masing Dana Desa yang diterima Desa Administrasi Larat menerima hampir Rp. 1 miliar tiap tahunnya.
“Belum ada tersangka. Tapi sudah penyidikan. Pastikan dalam waktu dekat kita ekspos, ” tandas Palapia.(SAD)

Comment