by

Jaksa Usut Proyek Coldstorage di Kisar

Ambon, BKA- Proyek coldstorage milik Dinas Perikanan Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) di Desa Lebelau, Pulau Kisar, Kecamatan Kisar Utara, tengah diusut Kejaksaan Negeri MBD.

Bahkan pihak Kejari MBD telah melakukan on the spot ke lokasi coldstorage, yang dinyatakan pembangunannya amburadul.

“Kita pantau, memang proyeknya ini amburadul. Bayangkan, kalau proyek dibangun sejak tahun 2015 sampai kini tidak ada manfaat. Kasihan tidak, uang negara yang dipakai percuma,” ungkap sumber jaksa yang menolak namanya dikorankan, kepada Beritakota Ambon, Minggu (25/1).

Menurutnya, kejaksaan tidak pernah diam dalam pengusutan kasus ini. Sebab berdasarkan pengakuan warga, proyek ini sejak dikerjakan tidak dimanfaaatkan sampai sekarang ini.

Padahal proyek tersebut dianggarkan Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, melalui usulan dari Dinas Perikanan MBD tahun 2015, senilai Rp 1 miliar lebih.

“Indikasinya proyek ini dikerjakan oleh kontraktor ST. Dia ini punya proyek coldstorage untuk pembuat es balok pengawet ikan, ada dua yang bermasalah. Saat ini, sedang diusut Kejari MBD,” bebernya.

Terhadap kasus ini, Sumber mengaku, Kejari MBD sudah melakukan pengusutan sejak akhir 2020 lalu. Sejumlah rangkaian penyelidikan untuk menentukan indikasi korupsi, sudah dilakukan sebelumnya.

“Kepastian pengusutan kasus ini sudah berjalan sekitar dua bulan lebih. Kalau tak ada kendala, kita tuntaskan bersamaan dengan penyidikan kasus pembangunan dua unit coldstorage di Letti dan Moain,” bebernya.

Kasi Intel Kejari MBD, Richard Lawalatta, yang dikonfirmasi, membenarkan hal tersebut. Menurutnya, untuk pengusutan kasus dugaan korupsi pembangunan satu unit coldstorage, yang dibangun di Desa Lebelau, Kecamatan Kisar Utara, saat ini sudah pada tahap penyidikan.

Jaksa dengan satu bunga melati itu mengaku, awalnya, Kejari MBD menerima data, kemudian menelaah laporan itu.

Dalam telaah itu, katanya, langkah puldata dan pulbaket juga dilakukan. Setelah itu, melakukan serangkaian penyelidikan. Penyelidikan itu untuk mencaritahu, ada indikasi penyimpangan atau perbuatan melawan hukum atau tidak.

“Karena bukti perbuatan melawan hukum itu kuat, makanya kita sudah naikkan status kasus ini ke penyidikan. Saat ini kita sedang mencari tahu, siapa-siapa yang menjadi tersangka dalam perkara ini,” bebernya.

Lawalatta mengaku, Surat Perintah Penyidikan (Sprindik) sudah diteken pada Oktober 2020 lalu. Sehinggga kasus ini terindikasi kuat, ada perbuatan melawan hukum yang menyeret lebih dari satu orang.

“Jadi nanti kita koordinasi ke BPKP juga untuk menghitung kerugian negaranya. Kalau tidak salah, begitu. Tapi yang jelas, saya akan koodinasikan dengan Kajari dulu,” tandasnya.

Ditanyakan, soal kontraktor yang mengerjakan proyek tersebut, dia mengaku, belum mengetahui persis namanya. “Saya tidak hafal lagi, nanti saya cek di kantor ya. Namun yang jelas, dokumen kontrak pembagunan pekerjaan coldstorage di Desa Lebelau itu, kejaksan sudah pegang,” pungkasnya.(SAD)

Comment