by

Kabid Humas : Kasus Penjualan Senjata Dalam Pengembangan

Kabid Humas Polda Maluku, Kombes Pol. Roem Ohoirat mengatakan, kasus penjualan senjata api dan amunisi kepada kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua sampai kini masih lakukan pengembangan intens oleh Polda Maluku.

Menurut Roem, kasus ini terendus dari adanya penangkapan warga yang membawa senjata api yang dilakukan Polres Bintuni Papua Barat. Dari hasil penyelidikan, senjata itu ternyata dibeli dari Ambon.

“Atas informasi tersebut, Kapolda Maluku memerintahkan Kapolresta Ambon dengan di Beck Up oleh Polda Maluku untuk melakukan koordinasi dengan Polres Bintuni dan Polda Papua barat serta melakukan penyelidikan di Ambon dan hasilnya telah dilakukan penangkapan terhadap beberapa orang,” ungkap juru bicara Kapolda Maluku itu.

Perwira polri yang punya tiga bunga melati ini mengaku, Polda Maluku tidak main-main dengan penyelidikan kasus ini. Dan faktanya sudah beberapa orang ditangkap.
“Kasus tersebut masih dikembangkan dan akan dilakukan ekspos ke media,” katanya.

Sebelumnya, berdasarkan data yang dihimpun di Mapolda Maluku, ada dua oknum anggota polisi yang bertugas di Polresta Pulau Ambon dan Pp Lease, ditangkap, karena diduga menjual senjata api dan amunisi kepada kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua.

Ditangkapnya, oknum polisi itu berdasarkan keterangan yang diperolah dari WT.
WT ditangkap anggota Polres Teluk Bintuni tanggal 10 Februari 2021.
WT, merupakan warga Jalan Merdeka, Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat.

Awalnya, pelaku WT diamankan bersama satu revolver, satu senjata api laras panjang, 600 amnunisi kaliber 5,56 dan tujuh amunisi kaliber 3,8 dan satu magazine. Selain itu, barang bukti lain berupa uang tunai Rp450.000, satu dokumen surat keterangan bebas Covid-19 dari Kota Ambon, satu unit ponsel nokia dan beberapa barang bawaan lainnya.

Dari pengakuan WT, barang terlarang oleh negara itu berasal dari dua anggota polisi yang bertugas di Polresta Pulau Ambon dan Pp Lease. (SAD)

Comment