by

Kakanwil Kemenang Disebut Menyesatkan

Anggota DPRD Maluku dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Rovik Akbar Afifudin, menyebut, Kakanwil Kementerian Agama (Kemenag) Maluku, Jamaludin Bugis, telah mengeluarkan pernyataan menyesatkan umat Muslim.

Pernyataan menyesatkan yang disampaikan Kakanwil Kemenag Maluku, terang Rovik, mengenai peniadaan pelaksanaan Shalat Idul Adha 1442 Hijriyah di Kota Ambon.

Menurut dia, statment tersebut tidak patut dikeluarkan oleh Kakanwil Kemenag Maluku.

“Saya kira, isu-isu soal masjid dan tempat ibadah ditutup, itu faktanya tidak ada di Ambon. Tapi di Ambon kan orang Shalat Jumat di masjid-masjid masih berjalan seperti biasa, bahkan shalat berjamaah juga masih ada. Tapi yang telah disampaikan Kakanwil itu adalah pernyataan yang menyesatkan umat,” tegas Rovik, Kamis (15/7).

Seharusnya Kakanwil Kemenag Maluku, terangnya, tidak mengeluarkan pernyataan yang multi tafsir dan membingungkan umat Muslim.

“Idul Adha ditiadakan, itu pernyataan yang menyesatkan. Saya kira, Kakanwil mustinya menyampaikan tidak seperti itu. Contohnya pada Idul Fitri tahun lalu juga kan, bahwa Shalat Idul Fitri bisa dilakukan di rumah atau di masjid, dengan tetap manjaga protokol kesehatan (prokes),” terangnya.

Sebagai pejabat publik, Rovik mengingatkan Kakanwil Kemenag Maluku, Jamaludin Bugis, agar berhati-hati dalam mengeluarkan pernyataan. Karena ditakutkan, pernyataan itu merupakan sikap yang diambil pemerintah secara kolektivitas.

“Yah mungkin pernyataan Kakanwil itu, pernyataan atas hasil analisa atau hasil dari membaca aturan dan sebagainya. Tapi kan Shalat Idul Adha itu bisa dilakukan dengan tetap memenuhi prokes. Masa orang bisa pergi kesana-sini dengan memenuhi prokes, tapi orang pergi Shalat Idul Adha ditiadakan,” tandasnya.

Sebelumnya diberitakan, KaKanwil Kemenag Maluku, Jamaludin Bugis, mengatakan, untuk Idul Adha tahun ini, tidak ada pelaksanaan takbir bersama secara konvoi di jalanan maupun di masjid atau mushollah, termasuk pelaksanaan Shalat Idul Adha.

Untuk itu, pihaknya akan bekerja sama dengan seluruh masjid yang menjadi pusat pelaksanaan Shalat Idul Adha secara berjamaan, agar tidak menggelar Sholat Idul Adha berjamaah.

Menurut Jamaludin, Shalat Idul Adha ditiadakan pada wilayah berstatus zona merah dan orange. Diluar zona tersebut, diperbolehkan melakukannya, namun dengan ketentuan yang disyaratkan.

“Karena Ambon masuk dalam zona orange, maka ditiadakan semua bentuk kerumunan, termasuk Sholat Idul Adha nanti. Hal ini kita lakukan demi menekan laju penyebaran Covid-19,” terang Jamaludin, dalam Rakor Sosialisasi dan Implementasi SE Nomor 15 Tahun 2021 tentang
Penerapan Prokes dalam Penyelenggaraan Idul Adha dan Qurban Tahun 1442 Hijriah 2021, di Lantai III Aula Kanwil Kemenag Maluku, Selasa (29/6).

Selain itu, Kanwil Kemenag Maluku akan menyurati semua tokoh agama dan masyarakat, agar tidak membuat kerumunan. Mulai saat ini, untuk sholat berjamaah, masker dan handsanitizer, wajid untuk digunakan. Jumlah jamaah yang mengikuti sholat, tidak boleh lebih dari 50 persen dari daya tampung masjd.

“Kami akan menyurati seluruh tokoh agama, untuk tidak melakukan kerumunan di masjid. Jamaah yang shalat, tidak boleh lebih dari 50 persen. Semua wajib memakai masker dan handsanitizer,” katanya.

Kemudian untuk panitia qurban dan cara pembagian kurban, lanjutnya, akan di minimalisir agar tidak ada banyak pertemuan yang mampu menyebarkan covid-19.

“Untuk panitia qurban sendiri, juga kami akan meminimalisir. Yang mungkin dulu panitia 12 orang, nanti mungkin hanya 6 orang. juga untuk pengambilan daging qurban, panitia yang akan membagikan dari rumah ke rumah warga yang membutuhkan. Jadi warga tidak perlu datang ke tempat pemotongan qurban dan membuat kerumunan,” pungkasnya. (RHM)

Comment