by

Kapolresta Didemo Keluarga Korban Husein Suat

Ambon, BKA- Merasa tidak puas atas pengusutan kasus penganiayaan dan pembunuhan yang menewaskan korban Husein Suat yang dilakukan penyidik Polresta Pulau Ambon dan Pp Lease, Aliansi Solidaritas untuk Husein Suat, menggelar aksi demonstrasi di depan markas Polresta Pulau Ambon dan P.P. Lease, Jumat (19/2).

Dalam orasinya, para pendemo minta agar secepatnya kepolisian mengusut tuntas kasus yang menyebabkan Husein Suat dianiaya hingga tewas di Jembatan Merah Putih (JMP) pada Kamis, 11 Februari 2021 lalu. Sebab, indikasi para pelaku berjumlah 10 orang, namun mengapa,penyidik hanya baru menetapkan 6 orang sebagai tersangka.

“Ada 10 orang yang diduga pelaku, kenapa baru enam orang yang ditahan. Kami minta kasus ini diusut tuntas,” teriak para pendemo.

Menanggapi hal tersebut, Kapolresta Pulau Ambon dan P.p. Lease, Kombes Leo Surya Nugraha Simatupang, sampaikan agar keluarga dan masyarakat paham akan proses yang sedang berjalan.

“Memang sudah ada kesesuaian antara para tersangka dan saksi-saksi, kemudian dengan TKP ini sudah ada penyesuaian, sehingga nantinya penyidik sebenarnya sudah bisa menyimpulkan pasal yang akan diterapkan. Memang pasal yang sementara dikenakan pasal 338, tapi ini kan masih berproses,” jelasnya.

Untuk saat ini, terkait berkas perkara 6 tersangka, penyidik saat ini sedang melakukan koordinasi dengan jaksa penuntut umum Kejari Ambon untuk kelengkapan berkas perkara dimaksud.

“Kami masih koordinasi dengan jaksa, masih bisa menambah keterangan saksi-saksi lain dan mungkin bisa menambah alat bukti lain. Bisa saja pasal ini juga akan bertambah, tergantung perkembangan. Ini kan baru penahanan kurang lebih satu minggu, Kita ada kesempatan lakukan penahanan paling lambat 60 hari lah, kami usahakan segera selesai. Kami harapkan keluarga terutama masyarakat bisa paham dengan proses yang kami lakukan. Kami akan berusaha se-profesional mungkin,” tandasnya.

Pantauan Beritakota Ambon, setelah berorasi di Mapolresta Pulau Ambon,aksi ini terus berlanjut di Mapolda Maluku. Disana, puluhan pendemo meminta kepada Kapolda Irjen Pol Refdi Andri agar mengevaluasi kinerja Kapolresta Kombes Leo Surya Nugraha Simatupang.

“Untuk diketahui, Kami minta Pak Kapolda evaluasi pak Kapolresta,” kata para pendemo.
Sementara Karo Ops Polda Maluku Kombes Pol Antonius Wantri Yulianto yang turun menemui pendemo mengatakan, semua tuntutan para pendemo sudah dijelaskan Kapolresta.
“Mengenai pasal itu pimpinan tidak bisa intervensi, kasus ini sudah ditangani Polresta,” ungkap Yulianto.

Diberitakan sebelumnya, setelah melalui proses pemeriksaan intens, dengan memeriksa 13 saksi-saksi terkait, Satreskrim Polresta Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease berhasil membeberkan pera-peran para tersangka dalam kasus penganiayaan dan penusukan yang mengakibatkan meninggalnya korban Husen Suat warga kampung kisar pandan kasturi pada Kamis (11/2) lalu, yang tewas akibat dianiaya enam tersangka di kawasan Poka, Jembatan Merha Putih (JMP) pada Kamis 11 Februari 2021 lalu.

Total terdapat 6 tersangka dalam kasus ini. Mereka masing masing berinisial E. N alias E alias B. P alias B. K alias A (32), R. K alias R (19), BM alias B (23), I.N alias I (16), M.O.O alias O (17) dan M.K alias K, (16).

Keenam tersangka yang diamankan, bergerak dengan peran masing masing, tersangka EN merupakan pelaku yang lakukan penusukan terhadap korban. Selanjutnya tersangka RK dan BM melakukan pengeroyokan menggunakan tangan kosong, sementara 3 tersangka lain yakni IN, MOO dan MK turut membantu.

“6 orang yang diamankan sudah keseluruhan, jadi kita lakukan penyelidikan berdasarkan keterangan saksi hasil keterangan awal 5 pelaku kami amankan dan tetapkan sebagai tersangka, sementara dalam penyelidikan, terdapat 6 nama yang melakukan penganiayaan terhadap korban, nah satu pelaku lain kita lakukan pendekatan dengan pihak keluarga sehingga pelaku tersebut akhirnya menyerahkan diri,”jelas Kapolresta Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease, Kombes Leo Surya Nugraha Simatupang dalam keterangan persnya di Mapolresta Ambon Senin (15/2).

Kapolresta mengatakan, yang menikam korban adalah tersangka EN. Senjata tajam yang digunakan untuk menikam mahasiswa unpatti itu juga EN, sudah siapkan ketika mengejar kelompok korban.

“Masing masing tersangka punya peran dalam kasus ini, eksekutor penikaman adalah EN senjata tajam yang digunakan juga dibawa tersangka saat melakukan pengejaran sedangkan tersangka lain ada yang mendorong hingga jatuh, ada juga yang mengejar boncengan korban,”ungkap Simatupang.

Atas perbuatannya keenam tersangka terancam Pasal 338 KUHP dan atau 170 ayat (2) ke 3e KUHP dan atau Pasal 351 ayat (3) KUHP, ancaman hukuman 15 Tahun penjara.(SAD)

Comment