by

Kasus Pengadaan Alat Laboratorium Poltek Masih Lidik

Ambon, BKA- Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku mengakui kalau kasus dugaan korupsi pengadaan peralatan Laboratorium Simolator Driling untuk Jurusan Teknik Mesin, Poltek Ambon, pada 2019 lalu, masih dalam penyelidikan (Lidik).

Penyelidikan yang dilakukan didalamnya, pengumpulan bahan keterangan, permintaan keterangan pihak-pihak terkait untuk mencari tahu, apakah posisi kasus tersebut terjadi tindak pidana atau tidak.

Kasi Penkum Kejati Maluku, Samy Sapulette, ketika dikonfirmasi koran ini, mengatakan, tim penyelidik hingga kini masih melakukan penyelidikan terhadap kasus tersebut. ”Saat ini Kejati masih melakukan penyelidikan terhadap kasus ini,” ungkap Sapulette, Kamis (3/12).

Berdasarkan prosedur tetap (Protap) Kejati Maluku, katanya, setiap kasus yang masih dalam tahap penyelidikan, tidak bisa dipublikasi ke masyarakat. “Karena masih penyelidikan, belum dapat disampaikan secara detail bagi masyarakat. Ikuti saja,” tandas Sapulette singkat.

Sumber di Kejati Maluku mengatakan, perkara dugaan korupsi pengadaan peralatan Laboratorium Simolator Driling untuk Jurusan Teknik Mesin ini, sudah diperkirakan akan menyeret banyak petinggi-petinggi di kampus itu.

Sebab jika dipelajari, berkas perkara yang masuk di meja jaksa, ada kesalahan besar terkait proses pencairan anggaran yang tidak sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku.

“Bayangkan, uang negara kok dibuat seperti ini. Anggaran cair 100 persen, tapi barangnnya tidak ada di tempat. Olehnya itu, hal ini mesti cepat dituntaskan Kejati Maluku,” tandasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, kasus ini dilaporkan ke Kejati Maluku karena diduga telah terjadi tindak pidana korupsi terhadap pengadaan alat-alat laboratorium di Poltek Ambon, yang diduga dilakukan oleh sejumlah pimpinan kampus itu.
Misalnya, Direktur Poltek selaku kuasa pengguna anggaran, pejabat pembuat komitmen, bendahara pengeluaran, pejabat penandatanganan Surat Perintah Pembayar (SPM), dan juga kontraktor PT Kevin’S Pratama Jaya selaku pekerja proyek.

Modus operandi yang dilakukan, proyek itu awalnya dilakukan pencairan 20 persen untuk pembayaran awal sebagai pengikat antara pembeli dengan penjual. Dan waktu pelaksanaan pekerjaan 100 hari kalender.

Uang muka yang diberikan sebesar Rp 1,892.000.000 sejak 5 September 2019 lalu. Kemudian waktu pekerjaan selesai pada 9 Desember 2019. Namun sampai saat itu, barang tersebut belum kunjung datang di Poltek Negeri Ambon.

Parahnya lagi, sekalipun tidak ada barangnya, namun pihak Poltek melakukan pembayaran kembali nilai kontrak proyek secara keseluruhan atau 100 persen.(SAD)

Comment