by

Kasus Penipuan YAB Minta Diusut Tuntas

Praktisi hukum Maluku, Rony Samloy, meminta, Ditreskrimum Polda Maluku mengusut tuntas kasus penipuan dan penggelapan yang dilakukan Yayasan Anak Bangsa (YAB).

Menurut Rony, selain keterlibatan Ketua Yayasan Anak Bangsa, Yosefa Kelbulan, dan suaminya Lamberth Miru selaku sekretaris yayasan, diduga masih ada pihak lain yang turut berperan atau menjadi perpanjangan tangan keduanya dalam melakukan aksi penipuan.

“Sebagai praktisi hukum, kita menduga, masih ada beberapa pelaku lain dalam kasus ini. Karena ada sejumlah koordinator lapangan di daerah-daerah, yang punya andil besar dalam mempengaruhi masyarakat untuk mengikuti modus yang ditawarkan yayasan ini,” jelas Samloy, Minggu (9/5).

Samloy mengaku, sejak Ketua dan Sekertaris Yayasan Anak Bangsa ditangkap dan dijadikan tersangka dalam kasus penipuan dan penggelapan, terendus ada ratusan masyarakat yang menjadi korban penipuan Yayasan Anak Bangsa. Sebab itu, Polda Maluku diminta punya atensi dalam mengusut tuntas kasus ini.

“Karena memang, diduga ada ratusan korban yang sudah dijanjikan yayasan itu akan mendapat uang dengan jumlah besar. Namun nihil. Padahal pihak yayasan sudah mengambil uang dengan nilai bervariasi dari korban di beberapa wilayah di Indonesia Timur,” jelasnya.

Walau demikian, Rony tetap memberikan apresiasi terhadap langkah cepat Polda Maluku dalam penanganan kasus tersebut, sehingga tidak menimbulkan korban penipuan yang lebih banyak lagi.

“Pastinya kita apresiasi Polda Maluku. Mereka bekerja luar biasa. Sebab yayasan ini sudah melakukan aktivitas begitu lama. Jadi sekali lagi, kita minta Polda Maluku usut kasus ini sampai tuntas. Sebab indikasinya masih ada tersangka lain dalam kasus ini,” tandasnya.

Sebelumnya diberitakan, Ketua Yayasan Anak Bangsa, Yosefa Kelbulan, dan suaminya Lamberth Miru yang merupakan sekretaris yayasan tersebut, terancam dipidana 4 tahun penjara.

Keduanya diduga melakukan tindak pidana penipuan dan penggelapan, sebagaimana diatur dalam pasal 372 dan 378 KUHP.

Kepastian hukuman pidana terhadap keduanya, setelah mereka diringkus personel Direktorat Kriminal Umum Polda Maluku, lantaran diduga melakukan penipuan dan penggelapan dana sekitar 350 masyarakat, yang tersebar di 11 Provinsi di Indonesia Timur.

Dirkrimum Polda Maluku, Kombes Sih Harno, yang didampingi Kabid Humas Polda Maluku, Kombes Roem Ohoirat, dalam keterangan persnya di Rupatama Polda Maluku, Selasa (4/5), menjelaskan, modus keduanya dalam melakukan penipuan, yakni, mendirikan yayasan di tahun 2012, kemudian menyampaikan ke masyarakat bahwa yayasan mendapat donor dana dari 6 negara, yakni, Singapura, Taiwan, Korea Selatan, Australia, Prancis dan Amerika.

Selanjutnya, keduanya mengajak masyarakat untuk mendonasikan uang, dengan janji uang yang didonasikan akan dilipatgandakan.

“Setelah mendirikan yayasan, kedua tersangka kemudian mensosialisasi ke masyarakat, barang siapa donor akan mendapat bantuan,” jelas Sih Harno.

Terdapat 4 modus yang dilancarkan kedua tersangka, masing masing tender relawan. Relawan yang menyetor dana sebesar Rp 250 ribu, dijanjikan akan mendapat konpensasi sebesar Rp 15 juta.

Selanjutnya modus tender rumah ibadah. Setoran 1 juta, dapat bantuan Rp 50 juta, denga rincian Rp 30 juta disumbangkan ke rumah ibadah, dan Rp 20 juta dimiliki si penyetor.

Kemudian modus tender relawan 45. Setor dana Rp 1 juta, dapat konpensasi Rp 45 juta. Serta tender relawan lepas, yakni, masyarakat menyetor dana Rp 1 juta, dapat konpensasi sebesar Rp 100 juta.

Dalam pengusutan kasus ini, 5 orang telah diperiksa sebagai saksi pelapor atau korban. Namun korban penipuan yayasan ini tidak hanya 5 orang. Diperkirakan lebih dari 350 orang, dengan total kerugian bervariasi.

“Yang lapor saat ini 5 orang, dengan total kerugian yang sudah mereka setor ke yayasan ini sebanyak Rp 535 juta. Ada juga yang ditangani Polres MTB, 16 orang korban dengan nilai kerugian Rp 335 juta. Jadi total dalam kasus ini diperkirakan lebih dari 350 orang,” pungkasnya.

Ditambahkan oleh Kabid Humas Polda Maluku, Kombes Roem Ohoirat, masyarakat yang merasa ditipu untuk segera melapor, agar diketahui secara pasti jumlah korban dari Yayasan Anak Bangsa.

“Saat ini kita buat posko-posko di Polda dan Polres jajaran, untuk menerima laporan bilamana ada masyarakat yang dirugikan. Karena kita perkirakan, masih banyak korban penipuan dari yayasan ini. Yayasan ini beroperasi sejak 2012, namun dokumen berupa akte notaris baru terbit tahun 2020,” ujar Ohoirat.

Ohoirat mengatakan, tidak menutup kemungkinan akan ada tersangka lain dalam kasus ini, melihat penyelidkan masih terus dilakukan.

“Jadi ini kita masih terus dalami untuk mencari, apakah ada tersangka lain di kasus ini ataukah tidak,” tandasnya.(SAD).

Comment