by

Kasus Perzinahan Oknum Komisioner KPU Malra Tunggu Ekspos

Ambon, BKA- Satreskrim Polres Tual dalam waktu dekat akan menggelar ekpos perkara, kasus dugaan tindak pidana perzinahan yang dilakukan salah satu komisioner KPU Malra, AR.

Kasat Reskrim Polres Tual, Iptu H. Siompo, mengungkapkan, tim penyidik kepolisian sudah mengantongi alat bukti yang cukup dikasus itu. Sehingga pekan ini, akan dilakukan gelar perkara untuk menentukan tersangka.

“Nanti kita ekspos pekan ini. Ekspos supaya kita bisa tahu, apakah ada tindak pidana atau tidak? Semua itu terlihat dalam ekspos,” ungkap Siompo melalui selulernya, Minggu (11/4).

Menurutnya, pemeriksaan terhadap salah satu saksi di Kota Ambon telah selesai dilakukan. Sehingga pihaknya hanya menunggu hasil pemeriksaan itu, untuk kemudian dilakukan gelar perkara.

“Penyidik kan baru periksa saksi di Ambon saja. Makanya kalau mereka sudah balik Tual, baru kita gelar. Rencananya pekan ini, sudah pasti agenda gelarnya,” jelasnya.

Disinggung soal siapa tersangka dalam kasus tersebut, dirinya mengaku, dari materi penyidikan, terstruktur jelas siapa itu pelapor dan terlapor. Sehigga kalau siapa tersangkanya, pasti hal tersebut sudah bisa diketahui sendiri.

Hanya saja, katanya, sesuai prosedur penyidikan kasus, harus melalui gelar perkara. “Jadi intinya nanti kita gelar ekspos dulu lah,” tandasnya.

Sebelumnya diberitakan, salah satu komisioner KPU Malra inisial AR, bakal terseret hukum. Dia diduga melakukan perzinahan dengan EM, pegawai Kementrian Agama Kabupaten Malra.

Kasat Reskrim Polres Tual, H. Siompo, yang dikonfirmasi, membenarkan hal tersebut. Menurutnya, dari laporan kasus perzinahan ini, penyidik Satreskrim Polres Tual telah memeriksa delapan saksi terkait. Termasuk terlapor, yang merupakan anggota KPU Malra tersebut.

“Pelapornya ini suami EM, Inisial JR. JR melaporkan istrinya melakukan perzinahan dengan anggota KPU Malra, karena waktu itu, dia menerima informasi dari keluarganya kalau istrinya sedang bermesraan dengan AR di dalam kediamannya pada 19 September 2020 lalu di Desa Fiditan, Kecamatan Dula Utara, Kota Tual,” ungkap Siompo, ketika dihubungi melalui selulernya, Rabu (31/3).

Lanjutnya, saat pelapor mendengar informasi kalau EM bersama AR di rumahnya, dia kemudian bergegas pulang. Dia membuka pintu rumah dan mencari jejak AR, apakah benar di dalam rumahnya.

“JR saat itu mengunci semua pintu-pintu rumah. Tidak lama kemudian, AR yang sedang bersembunyi, keluar melalui pintu jendela rumah. Anggota KPU itu tidak sadar, kalau aksinya itu sedang dipantau keluarga pelapor di luar rumah. Keluarganya kemudian datang membuntuti AR, lalu menganiaya yang bersangkutan,” jelasnya.

Dari penganiayaan itu, kata Kasat, AR tidak terima dan melakukan laporan pidana terkait penganiayaan bersama di Polres Tual. Sedangkan untuk korban JR atau pelapor, melapor terkait perzinahan yang dilakukan istrinya bersama AR.

“Dalam proses pengusutan, belakangan, JR kemudian menarik kembali laporannya di Polres Tual, karena sudah berdamai dengan istrinya. Namun untuk laporan pidana penganiyaan, anggota KPU itu terus melanjutkan sampai proses P21. Nah, karena tidak terima, dia kemudian meminta penyidik agar kembali memproses kasus perzinahan yang dilakukan AR itu di Unit PPA Polres Tual,” ungkap Siompo.

Kejadian perzinahan tersebut terjadi pada 19 September 2020. Kasus ini pun sudah tidak lama lagi, penyidik akan menggelar perkara menetapkan tersangka, karena sudah ditingkatkan dari penyelidikan ke penyidikan.

“Semuanya akan kita gelar dulu. Tapi masih kurang satu saksi lagi, yakni saksi dari istrinya terlapor AR. Karena saksi masih di Ambon, sehingga penyidik akan berangkat ke Ambon untuk melakukan pemeriksaan di sana. Setelah selesai pemeriksaan saksi, baru melakukan gelar perkara untuk penetapan tersangka,” pungkasnya.(SAD).

Comment