by

Kaum Milenial Dapat Cegah Stunting

AMBON-BKA, Kepala Perwakilan BKKBN Maluku, Sarles Brabar menyebutkan, salah satu kunci dari pencegahan stanting dengan melibatkan kaum milenial. Ini dilakukan dalam bentuk upaya menciptakan anak yang berkualitas.

“Anak berkualitas bermula dari pengasuhan 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Bahkan jika ditelusur lebih jauh bermula dari terbentuknya kaum muda berkualitas, sebagai calon orang tua hebat yang melahirkan generasi anak sehat,” ungkap Sarles, kepada awak media, Senin (2/8).

Stunting, kata dia, sudah menjadi perhatian pemerintah dalam pencegahan. Sebab, permasalahan gizi di Indonesia saat ini yang paling menonjol adalah stunting. Upaya ini bertujuan agar anak-anak Indonesia termasuk di Maluku, dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Disertai kemampuan emosional, sosial, dan fisik yang siap untuk belajar, serta mampu berinovasi dan berkompetisi.

Baca: Rp 40 Miliar Tangani Covid-19

Dikatakan, ada dua hal yang menjadi pencegahan stunting. Yakni perbaikan terhadap pola makan dan pola asuh terhadap anak. Sehingga hal ini yang menjadi prioritas pemerintah dalam penegahan stanting. Karena masalah masalah stunting sesungguhnya dapat dicegah, dengan berbagai program intervensi sensitif maupun spesifik. Dapat pula dilakukan sebagai suatu program pencegahan stunting, apabila diberikan kepada sasaran yang tepat.

“Makanya dalam upaya pencegahan stunting, sasaran prioritas masih fokus pada kelompok ibu hamil dan ibu menyusui, serta pada anak usia kurang dari dua tahun (baduta). Sasaran ini dimaksud sebagai sasaran yang tepat bagi program percepatan perbaikan gizi pada 1000 HPK,” papar Sarles.

Diungkapkan, jika calon ibu punya asupan gizi kurang sejak remaja, akan berisiko punya anak kurang gizi. Dan si anak akan mencontoh pola makan ibunya dan terus berputar. Siklusnya dimulai dengan kondisi kesehatan remaja putri. Maka masalah stunting harus jadi perhatian sejak remaja.

“Harapannya agar mereka menjaga asupan gizi, karena remaja adalah calon orang tua. Karena gaya hidup tidak sehat akan memengaruhi kondisi kehamilan, sehingga berpotensi melahirkan bayi dengan gangguan tumbuh kembang atau stunting. Dan stunting tidak hanya dipicu pemenuhan nutrisi saat bayi dalam kandungan. Melainkan juga karena kondisi kesehatan kedua orang tua,” terangnya.

Menurutnya, edukasi mengenai stunting diperlukan para remaja sedari dini. Salah satunya dengan cara pemenuhan segala aspek penunjang kesehatan sebelum berkeluarga. “Sebagai orang yang baru dipercayakan di Maluku, saya menghimbau agar generasi muda menghindari pernikahan dini. Untuk usia ideal dalam pernikahan bagi wanita minimal 18 tahun dan laki-laki 20 tahun keatas. Pada usia itu, pasangan akan lebih matang secara organ fisik reproduksi, emosional, psikologis, dan ekonomi,” ucap Sarles.

Baca: Bupati KKT Salurkan Bantuan di Kecamatan Tansel

Mantan Kepala Perwakilan BKKBN Papua ini menambahkan, stunting sendiri sesuai petunjuk Presiden, sudah menjadi bagian dari tanggungjawab pemerintah daerah dan kepala BKKBN pusat, yang ditunjuk sebagai penyelenggara strategis penurunan angka stunting di Indonesia.

“Tapi stunting ini kita kerja, kan sesuai dengan tatatan polivalensi yang dilakukan selama ini. Karena ini tidak bisa kita keluar dari yang sudah dikoordinasikan dengan konvergensi yang dilakukan, melalui sektor kementerian dan instansi yang ada,” imbuhnya (RHM)

Comment