by

Kejari Buru Selamatkan 2 Miliar Uang Negara

Ambon, BKA- Mantan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Kepulauan Buru, Achmad Assegaf, mengembalikan uang yang dikorupsi sebesar Rp 2,2 miliar ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Buru.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Buru, Muhtadi, saat melakukan konferensi pers bersama Sekda Buru, M Ilyas Hamid, serta Kepala Dinas Inspektorat Kabupaten Buru, Sugeng Widodo, di Kantor Kejari Buru, Rabu (28/4).

Muhtadi mengungkapkan, uang pengganti akan diserahkan ke kas negara. Dengan begitu, pihaknya berhasil menyelamatkan kerugian keuangan negara dalam kasus korupsi di Sekertariat Daerah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buru, yang dilakukan mantan Sekda Buru.

“Dia adalah mantan Sekretaris Daerah Kabupaten Buru yang didakwa melakukan tindakan pidana korupsi dan sudah berkekuatan hukum tetap. Dan ini merupakan uang pengganti Rp 2,216,000,000. Uang pengganti ini akan kami serahkan ke kas negara. Jadi dana yang dikorupsi merupakan dana di Sekertariat Daerah. Dari jumlah Rp 9,112,187,705, kerugian keuangan negara yang berhasil diselamatkan hari ini dikembalikan ke kas negara sebanyak Rp 2,216,000,000,” kata Muhtadi.

Ia menjelaskan jadi uang pengganti ini disetor ke kas negara, bukan kas daerah. Namun pemerintah daerah bisa meminta kepada pemerintah pusat, agar dana tersebut bisa ditransfer ke pemerintah daerah untuk kepentingan pembangunan di daerah.

“Mudah-mudahan ini sumbangsih kejaksaan bermanfaat untuk Pemerintah Kabupaten Buru di kelangkaan kas daerah yang terjadi sekarang. Jadi kerugian keuangan negara yang dihitung ahli itu Rp 9,112,187,705,” ujar Muhtadi.

Orang nomor satu di Kejari Buru ini menyatakan, mantan Sekda Buru ini membuat laporan pertanggungjawaban fiktif, demi mencairkan uang yang berada di Sekertariat Daerah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buru. “Disimpangkan artinya dilakukan pertanggung jawaban-pertanggung jawaban yang tidak benar, ternyata sampai jumlahnya Rp 9,112,187,705,” ungkapnya.

Dia mengakui, memang ada tugas yang belum tuntas dilakukan Kejari Buru, yaitu, melakukan penyelamatan uang negara berdasarkan putusan pengadilan.
Untuk itu, Muhtadi mengisyaratkan, akan dilakukan penyitaan aset milik Achmad Assegaf. Sehingga pihaknya akan melakukan penelusuran terhadap aset-aset yang bersangkutan. Setelah jelas kepemilikannya, nanti jaksa eksekutor melakukan eksekusi terhadap harta yang ada, untuk menutupi uang pengganti.

“Ini sedang kita lakukan. Ini uang pengganti terhadap kerugian keuangan negara yang terjadi. Jadi uang pengganti itu untuk menggantikan keuangan negara yang dirugikan. Kemudian setelah ternyata kurang dari eksekusi dasar putusan yang berkekuatan hukum tetap, itu kita cari harta-hartanya untuk menutupi kerugian keuangan yang ada,” terangnya.

Selain itu, Kejari Buru ini menegaskan, dalam kasus tersebut hanya ada dua tersangka, yang sekarang telah mempertanggung jawabkan perbuatannya. Mantan Sekda Buru kini dipenjara di Lapas Kelas III Namlea, Jikumerasa. Sementara mantan Bendahara Sekertariat Daerah Kabupaten Buru, La Joni, telah almarhum.

“Kasus ini sudah tuntas. Ini sudah selesai, sudah berkekuatan hukum. Yang bersangkutan sudah dihukum dan tidak menunjuk lagi pelaku-pelaku yang lain dan uang pengganti yang ada kita serahkan. Hari ini, tugas jaksa eksekutor masih tersisa adalah melakukan pencarian terhadap aset dan harta kekayaan yang bersangkutan,” kuncinya.

Sementara itu, Sekda Buru, Ilyas Hamid, berterima kasih kepada Kejari Buru atas penyelamatan kerugian keuangan negara di kabupaten tersebut.

“Prinsipnya pemerintah daerah berterima kasih kepada lembaga peradilan, dalam hal ini kejaksaan, yang telah melakukan upaya hukum, dimana terhadap putusan yang telah incrah hari ini kita buktikan sendiri, bahwa kejaksaan sudah berusaha mengembalikan kerugian keuangan negara. Tapi baru sebagian dan selanjutnya anggaran ini dikembalikan ke daerah dan akan dipergunakan untuk pembangunan daerah ini,” pungkasnya.

Dalam amar putusannya majelis hakim yang memeriksa, mengadili dan memutuskan perkara tersebut, memvonis mantan Sekda Buru itu dengan penjara selama 5 tahun, serta membayar uang denda sebesar Rp 500 juta subsider 3 bulan penjara, dan membayar uang ganti rugi sebesar Rp 9 miliar lebih subsider 2 tahun penjara.

Sementara untuk terdakwa mantan Bendahara Setda Buru, La Joni Ali, yang sudah meninggal dunia karena sakit, majelis hakim memutuskan, perkara tersebut secara resmi gugur demi hukum.(MSR)

Comment