by

Kejati Masih Kejar Satu Buron Kasus Reboisasi Bursel

Ambon, BKA- Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku hingga kini masih mengejar satu buronan, yang dijerat dalam kasus korupsi dana reboisasi di Dinas Kehutanan Kabupaten Buru Selatan (Bursel).

Asintel Kejati Maluku, Muji Martopo, mengatakan, untuk perkara dana reboisasi di Bursel, masih tersisa satu buron yang belum ditangkap.

Terpidana tersebut adalah Syarif Tuharea yang merupakan Bendahara Pengeluaran pada Dinas Kehutanan Kabupaten Bursel.

“Kasus ini menyeret 4 terpidana. Tiganya sudah ditangkap dan dieksekusi, sedangkan sisanya satu masih dalam pengejaran tim jaksa,” ungkap Martopo, ketika dihubungi melalui sulernya, Minggu (10/1).

Jaksa tiga bunga melati di pundak itu mengatakan, Kejaksaan saat ini terus berkoordinasi dengan Tim Tangkap Buronan (Tabur) Kejaksaan Agung dan Kejaksaan Tinggi Maluku.

Upaya koordinasi ini untuk mencari buronan yang belum ditangkap, termasuk Syarif Tuharea. “Kita terus bangun koordinasi untuk mencari yang bersangkutan,” jelas dia.

Dia menegaskan, untuk para terpidana yang masuk DPO yang ditangani Kejati Maluku, Kejati terus berupaya untuk menangkap mereka.

“Jadi sekali lagi, saya sarankan, agar para DPO yang sampai kini belum ditangkap, supaya menyerahkan diri ke pihak Kejaksaan,” tandasnya.

Terpisah, Aspidsus Kejati Maluku, M. Rudi, mengatakan, Tim Tabur sebelumnya menangkap tiga terpidana dana reboisasi dan pengkayaan tahun 2010 di Dinas Kehutanan Kabupaten Bursel.

Awalnya, Terpidana Janwar Risky Polanunu dan Muhammad Tuasamu, telah berhasil dibekuk tim tangkap buronan (Tabur) Kejaksaan Agung dan Kejaksaan Tinggi Maluku.

Janwar Risky Polanunu yang mantan Pelaksana Teknis Kegiatan, ditangkap saat berada di kawasan perumahan BTN Kanawa Indah, Kebun Cengkih, Desa Batu Merah, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, pada 20 Oktober 2020.

Sedangkan Muhammad Tuasamu yang merupakan mantan Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Bursel, diringkus saat berada di Jalan Johar Baru IV, Kecamatan Johar Baru, Jakarta Pusat, pada 6 Januari 2021.

Sementara Thabat Thalib M alias Oyang selaku Kuasa Direktur CV. Agoeng, sudah diamankan sejak awal.

“Di kasus ini tinggal satu yang masih DPO. Yaitu Syarif Tuharea. Mereka semua divonis 7 tahun penjara berdasarkan amar putusan Kasasi dari Mahkamah Agung, ” ungkap Aspidsus, pekan kemarin.

Aspidsus menghimbau kepada terpidana Syarif Tuharea agar menyerahkan diri. Sebab tak ada tempat yang aman untuk bersembunyi dari aparat penegak hukum.

“Terhadap terpidana Syarif Tuharea untuk menyerahkan diri. Karena tidak ada tempat yang aman untuk DPO-DPO bersembunyi,” pintanya.

Selain Syarif, Rudi mengaku, masih ada sejumlah buronan lainnya di Maluku yang saat ini sedang dikejar Tim Tabur Kejaksaan Agung maupun Kejati Maluku.

“Untuk buronan lainnya, saat ini masih dikejar Tim Tabur. Kalau kasusnya rincinya seperti apa? Sebaiknya jangan dulu diekspos. Semua itu internal Tim Tabur,” pungkasnya.(SAD).

Comment