by

Kejenuhan Siswa Semakin Nampak

Ambon, BKA- Tidak ada pilihan lain bagi sekolah selain melanjutkan pola Belajar Dari Rumah (BDR), guna mengantisipasi penularan Covid-19 di lingkungan sekolah.

Untuk itu, guru dituntut untuk terus kreatif dan berinovasi untuk menciptakan materi pembelajaran yang dapat menarik minat belajar siswa, baik secara Daring maupun Luring.

Selain itu, orangtua pun terus diharapkan menjadi “tulang punggung” pendidikan, karena diminta untuk terus mengontrol dan mengawasi waktu belajar siswa di rumah.

Namun kenyataan yang ditemui di lapangan sangat berbeda. Siswa malah semakin menunjukkan kejenuhan mereka. Seperti yang terjadi di SD Kristen Nania.

Kepala SD Kristen Nania, Marthin Pattinasarany, mengungkapkan, anak-anak tidak lagi fokus mengikuti proses pembelajaran secara baik.

Kesimpulan itu dia buat setelah mengamati proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru dengan siswa secara Daring.

Dia mengatakan, pada saat guru melaksanakan pembelajaran Daring melalui aplikasi WathsaAp maupun google meeting, ada siswa yang hanya menghidupkan video di awal pembelajaran. Setelah itu, video dimatikan.

Ada juga siswa yang sama sekali tidak mengaktifkan video, saat proses belajar mengajar berlangsung hingga selesai.

“Itu saya temui ketika melakukan pengamatan kepada guru, pada saat sedang belajar. Jadi sebenarnya mereka sudah jenuh, tapi karena tetap belajar Daring, sehingga dengan terpaksa mereka ikut belajar saja. Tapi tidak serius lagi. Sehingga bagi mereka, yang penting masuk kelas virtual supaya guru tahu sudah hadir, tapi tidak ikut belajar,” ungkap Pattinasarany, Senin (25/1).

Untuk itu, Ia meminta kepada pemerintah untuk mengevaluasi proses BDR, agar tidak tidak semakin memberikan dampak buruk bagi perkembangan mutu pendidikan anak-anak.

“Saya sudah sebarkan kuesioner kepada orangtua, dan rata-rata respon orangtua itu harus belajar tatap muka. Tapi kan tidak mungkin saya ambil kebijakan itu, kalau belum ada ijin dari pemerintah. Untuk itu, saya sudah sampaikan baik-baik kepada orangtu soal situasi dan kondisi sekarang ini. Nah dengan adanya vaksin, saya kira sudah ada peluang untuk kita belajar tatap muka. Tinggal bagaimana pemerintah mengambil keputusan soal itu. Bahwa selain tenaga kesehatan, saya kira guru juga harus diprioritaskan, agar bisa kita lakukan belajar tatap muka. Karena soal dukungan orangtua, mereka sudah sangat setuju. Tinggal langkah pemerintah saja yang kita tunggu. Jadi kita sangat berharap, soal proses belajar mengajar di tengah pandemi ini bisa cepat ada jalankan keluar, demi masa depan anak-anak kita,” pungkas Pattinasarany. (LAM)

Comment