by

Kekerasan Perempuan dan Anak Jadi Fokus Kecamatan Namlea

Ambon, BKA- Dari 37 kasus kekerasan perempuan dan anak yang terjadi di Kabupaten Buru, terdapat 12 kasus kekerasan seksual, yang sebagian besar terjadi di kawasan Kecamatan Namlea.

Untuk itu, upaya pencegahan terhadap tindak kekerasan perempuan dan anak, menjadi salah satu fokus utama Pemerintah Kecamatan Namlea.

Salah satu upaya yang dilakukan, yakni, menggencarkan sosialisasi pencegahan tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak di tengah masyarakat. Seperti yang digagas oleh Bidang Pemberdayaan Masyarakat Desa Siahoni, Kecamatan Namlea, pada 12 Desember 2020 lalu.

Ada sejumlah pembicara pada sosialisasi yang digelar di Desa Siahoni tersebut. Diantaranya, Camat Namlea Latif Effendi, Kapolsek Namlea AKP Uspril W. Futwembun, Sekretaris Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan Dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Buru Nasgia Kartini, S, Pengurus P2TP2A Buru Bagian Psikologi Elldy Ayu Tinggapy.


Pada kesempatan itu, Camat Namlea, Latif Effendi, menjelaskan, kekerasan tidak hanya terjadi untuk perempuan dan anak, tetapi juga terjadi terhadap laki-laki. Hal itu diatur dalam undang-undang dan peraturan menteri, terkait perlindungan perempuan dan anak.

“Sebetulnya, kekerasan ini bukan terhadap perempuan saja, terhadap laki-laki pun demikian. Jadi ibu-ibu jangan bilang undang-undang hanya mengikat laki-laki saja, perempuan pun demikian. Kalau ada ibu-ibu yang pukul suami, tetap juga kena. Jadi kalau istri pukul suami, bisa dituntut,” terangnya.

Namun, katanya, jika ada permasalahan dalam rumah tangga, bisa dibicarakan secara kekeluargaan, agar tidak berdampak terhadap anak-anak.


“Kalau bisa atur damai baik-baik lah bagitu, saling mengerti, saling memahami dan saling mencintai, supaya rumah tangga aman, anak-anak semua bisa tenang. Karena kalau biasanya suami-istri berkelahi, yang menjadi resiko anak-anak, karena secara psikologi bisa terganggu,” ungkapnya.

Sementara untuk permasalahan eksploitasi anak, kata Latif, menjadi masalah dalam masyarakat saat ini. Karena masih banyak terjadi eksploitasi anak untuk bekerja.

“Eksploitasi anak ini juga suatu problem. Kadang-kadang kita juga salah menterjemahkan itu. Kadang-kadang kalau orangtua, mohon maaf ya, dalam tanda kutip yang mungkin perekonomiannya dibawah, ya kadang-kadang mereka mengeksplorasi anak dengan mungkin paling tidak bisa membantu orangtua untuk bisa mencari nafkah. Padahal sesungguhnya itu kewajiban orangtua untuk mencari nafkah. Tugas anak-anak itu belajar, sekolah untuk mencari ilmu,” terang Latif.

Untuk itu, dia mengingatkan masyarakat agar dapat mengimplementasikan materi sosialisasi pencegahan kekerasan perempuan dan anak tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

“Tolong, setelah kegiatan ini selesai, tolong mari kita saling menjaga, saling waspada, sehingga tidak terjadi kekerasan terhadap perempuan dan anak,” pungkas Latif. (MSR)

Comment