by

Keluarga Korban Minta Rekonstruksi Tewasnya Husein Suat

Ambon, BKA- Gani Suat, Kepala Pemuda Banda Eli Elat di Kota Ambon mengatakan, sampai saat ini keluarga korban belum ikhlas menerima kepergian korban Husein Suat, yang tewas di tikam beberapa pemuda di Desa Poka, tepatnya di tanjakan Jembatan Merah Putih (JMP), pada Kamis (11/2) lalu.

Pasalnya, diduga aktor utama atau otak dibalik pembunuhan berdarah itu, belum mampu diungkap Polresta Pulau Ambon dan Pp Lease. Dan tentunya hal ini membuat keluarga korban kecewa, meski sudah ada beberapa pelaku yang berberhasil ditangkap pihak kepolisian.

“Memang sudah ada beberapa pelaku diamankan di Polresta Pulau Ambon dan Pp Lease, namun kita minta supaya aktor utama dibalik kejadian ini harus diungkap. Otaknya siapa, penyebabnya apa?. Dan kita mau agar penyidik melakukan rekonstruksi kembali terkait insiden pembunuhan ini. Sebab, dari situ bisa kita ketahui, siapa yang melakukan aksi keji itu,” ungkap Gani Suat saat dikonfirmasi Beritakota Ambon, melalui selulernya, Minggu (14/2).

Dia mengaku, buntut dari ketidak transparan pihak kepolisian, pada Sabtu 13 Februari akhir pekan kemarin, beberapa kelompok pemuda Banda Eli Elat pergi ke kawasan Kate-Kate, Desa Hunuth, Kecamatan Teluk Ambon untuk mencari tahu tempat-tempat parkiran anak-anak pengangguran yang selalu membuat resah di tengah masyarakat. Ternyata sampai disana, sudah ada pihak TNI dan Polri, akhirnya mereka kembali.
Akan tetapi,saat itu, ada pelemparan terhadap orang tak dikenal terhadap mereka. Hal ini membuat mereka geram dan merusak beberapa rumah di kawasan tersebut.
“Pasca bentrokan itu, saya tadi malam (Sabtu red) bersama Tokoh Banda Eli Elat, bapak Yusran Salamun menghadap bapak Kapolresta. Disana kita memberikan pernyataan bahwa jika belum menangkap pelaku maka kami akan melakukan gerakan tambahan lagi. Akan tetapi, jam 2 tadi malam, pelaku sudah menyerahkan diri ke pihak polresta. Dan kami juga sudah selesai mengganti kerusakan rumah-rumah yang dirusaki anak-anak kami,” jelasnya.
Untuk itu, keluarga minta, harus dilakukan reka ulang supaya bisa diketahui sejauhmana peran-peran pelaku pada saat membunuh korban.

“Kita minta reka ulang saja. Kita mau tahu, reka ulang itu seperti apa dari pihak keamanan. Agar kita merasa puas. Namun yang jelas, akan kita kawal terus pengusutan kasus ini oleh pihak kepolisian,” pungkas Gani.

Sebelumnya, pada Sabtu (13/2) pagi, keluarga korban kepada wartawan mengatakan, keluarga Besar Banda Ely Elat di Kota Ambon memberikan waktu kepada aparat kepolisian selama sembilan hari untuk membekuk pelaku pembunuh anak mereka Husein Suat.

Keluarga Korban yang juga Kepala Pemuda Banda Ely Elat Kota Ambon, Gani Suat minta kepada aparat kepolisian segera membekuk otak dari penganiayaan yang menewaskan anaknya itu.

”Kami minta polisi segera bekuk pelaku yang jadi otak dari penganiayaan yang menyebabkan anak kami tewas. Kita kasih waktu paling lambat 9 hari pasca korban meninggal dunia,” tegas Gani kepada wartawan di Ambon.

Menurutnya, beredar kabar kalau para pelaku sudah ditangkap, namun pihak keluarga secara resmi belum mendapatkan informasi secara detail terhadap terduga pelaku yang kini ditahan di Polresta Ambon.
”Kita secara resmi belum dapat kepastian siapa saja terduga pelaku yang ditangkap dan status serta peran mereka seperti apa dari kepolisian,” ucap Gani.

Untuk itu kata Gani, pihak keluarga sangat berharap kepada Kapolresta Ambon dan Kapolsek Teluk Ambon agar sesegera mungkin memberikan penjelasan kepada keluarga, terkait dengan siapa saja terduga pelaku yang sudah ditahan.

Jika, batas waktu 9 hari yang diberikan, pelaku belum juga ditangkap, maka pihak keluarga akan melakukan penangkapan terhadap pelaku, yang nama dan alamatnya telah dikantongi oleh keluarga besar Banda Ely Elat.

”Kalau pelaku tidak dapat ditangkap, maka jangan permasalahkan pihak keluarga. Dan jika polisi tidak mampu menangkap pelaku, kami akan bantu menangkap otak dari penganiayaan tersebut,” ancam Gani.

Ia menuturkan, sebelum kejadian, korban Husein Suat baru selesai konser di Galunggung. Kemudian pukul 02.00 WIT ia menjenguk temannya di Waiheru. Setelah balik dari Waiheru, mereka berpapasan dengan sekelompok pemuda di jembatan LIPI.
Kelompok pemuda LIPI memaki mereka dan almarhum menanyakan kenapa mereka dimaki. Kelompok pemuda diatas jembatan LIPI tidak terima baik dan terjadi adu mulut. Selesai mereka melanjutkan perjalanan dengan sepeda motor.

Namun, para pelaku mengejar korban dan teman-temannya ini sampai ke depan PLN Poka kemudian melempari mereka, namun tidak ditanggapi.

”Para pelaku kemudian mengejar sampai ke JMP, dan anak kami dibantai sampai meninggal ditempat,” bebernya.
Ditempat yang sama tokoh masyarakat Banda Ely Elat Yusran Salamun menegaskan, nama maupun keberadaan pelaku sudah dikantonggi pihak keluarga.

Untuk itu, polisi diminta untuk segera menangkap pelaku, sebab pihak keluarga takutkan pelaku bisa saja melarikan diri.
”Kita tahu persis, nama alamat dan sebagainya, namun kalau tidak cepat disikapi oleh aparat, maka prinsipnya nyawa dibalas nyawa, darah dibalas darah,” ancam Salamun.

Terpisah, Kasubbag Humas Polresta Pulau Ambon dan Pp Lease, Ipda Izack Leatemia kepada koran ini mengatakan, peristiwa naas yang menimpa korban Husein Suat pada Kamis (11/2) lalu, polisi mengamankan sembilan orang terduga pelaku, kemudian dari hasil pemeriksaan intens, ditetapkan lima tersangka diantaranya, IN, MOO, MKT, RK dan BM dan langsung dilakukan penahanan. Sementara satu terduga pelaku yang merupakan DPO yang melarikan diri di TKP, Sabtu 13 Februari 2021 kemarin sudah menyerahkan diri di Polresta.

“Jadi tersangkanya sudah berjumlah 6 orang. Awalnya penyidik tetapkan lima tersangka,namun satu tersangka inisial E.N yang dinyatakan DPO menyerahkan diri, maka total semuanya 6 orang,” jelas Leatemia, melalui selulernya, Minggu (14/2).

Keenam tersangka, lanjut Juru bicara Kapolresta itu, disangkakan dengan pasal 338 KUHP,170 aya (2) KUHP, 351 ayat (3) KUHP junto dan pasal 55 ayat (1).
“Enam tersangka ini terancam pasal bervariasi dengan peran masing-masing, sehingga mereka terancam hukuman maksimal 16 tahun penjara,” pungkasnya.(SAD)

Comment