by

Kelurahan Ahusen Ciptakan Ruang Hijau

Ambon, BKA- Ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan merupakan bagian dari penataan ruang kota dengan tujuan menjaga ketersediaan lahan sebagai kawasan resapan air, menciptakan aspek planologis perkotaan melalui keseimbangan antara lingkungan alam dan lingkungan binaan yang berguna. Hal inilah yang membuat Pemerintah Kelurahan Ahusen bersama warga setempat menciptakan ruang hijau yang ramah lingkungan.

Ruang terbuka hijau yang berada pada RT 002/RW 04 Pohon Puleh kelurahan Ahusen, Kecamatan Sirimau ini, awalnya digagas pada tahun 2016. Didorong dengan program RT mengenenai penataan lingkungan dan dengan adanya kesadaran untuk hidup sehat dari masyarakat sekitar, sehingga mereka berkomitmen melakukan penghijauan. Ketua RT mengakui dalam upaya membangun lingkungan yang sehat dan asri, maka dilakukan rapat bersama dengan warga. Mereka menyadari bahwa lingkungan ini memiliki potensi penghijauan sejak dulu, hanya perlu lebih diperhatikan lagi. Selain melakukan penghijauan ada juga ruang bagi edukasi anak agar bisa berinteraksi dengan alam terbuka.

” Jadi sebenarnya pada tahun 2016, setelah melakukan rapat dengan warga kami memutuskan untuk melakukan ruang publik terbuka hijau yang ramah anak. Adanya banyak lahan kosong sehingga saya melakukan pendekatan dengan warga untuk bisa ditanami tanaman. Saya sendiri memiliki program penataan lingkungan hijau, lalu kita mulai melakukan penghijauan. Persyaratan lingkungan sehat itu adalah lingkungan terbuka yang selain bisa menghasilkan oksigen, tetapi juga bisa menjadi ruang terbuka bagi interaksi anak. Kecenderungan lingkungan kota itu jarang ditemukan ruang terbuka hijau yang bisa membantu tumbuh kembang anak,” tutur Justus Pattipawae ketua RT 002/04.

Pattipawae juga menyampaikan, ada pendekatan khusus untuk bisa meyakinkan warga agar bisa memberikan lahannya untuk dipergunakan bagi kepentingan bersama. ” Setelah melakukan rapat kami pun sepakat agar RT bisa menyampaikan langsung kepada warga. Untuk itu saya melakukan pendekatan dengan warga yang memiliki lahan kosong agar bisa dijadikan tempat penghijauan bagi kepentingan bersama. Saya bisa meyakinkan warga dengan mengatakan bahwa semakin banyak adanya pohon maka akan semakin banyak manfaat yang bisa kami terima seperti udara lebih sejuk. Saya juga memberitahu warga bahwa dengan menebang pohon artinya sudah mengurangi asupan oksigen yang ada,” tambahnya.

Untuk bisa tetap menjaga keberlangsungan ruang terbuka hijau ini, sambungnya, dilakukan beberapa kesepakatan dengan warga. Dengan adanya kesepakatan apabila ingin memotong pohon harus ada izin dari RT setempat. Selain itu juga mereka melakukan kesepakatan kerja bakti setiap hari sabtu, apabila ada warga yang tidak ikut kerja bakti maka tidak akan dilayani keperluan administrasinya. Kesepakatan ini dibuat agar warga bisa komitmen untuk tetap menjaga lingkungan bersih. Kerja sama pemuda juga ikut andil dalam membersihkan lingkungan dengan cara mengangkut sampah warga.

” Setelah membuat keputusan kami pun berlakukan beberapa persyaratan bagi warga. Seperti meminta ijin dahulu sebelum menebang pohon dan pemberian sanksi bagi warga yang tidak ikut kerja bakti yang diadakan. Sanksi yang diberikan, yaitu tidak akan dilayani dalam urusan administrasi. Saya memang agak keras dalam menghimbau warga agar tetap menjaga lingkunga agar tetap terjaga bersih. Kaum muda kami juga ikut ambil bagian dalam membersihkkan sampah warga. Untuk setiap sampah warga yang diangkut akan dikenakan biaya dua ribu rupiah, itu tujuannya untuk menambah uang kas pembangunan lingkungan,” tegasnya.

Selain ruang terbuka hija, pihaknya juga melakukan upaya penanganan sampah dan penanganan banjir.Upaya yang dilakukan yaitu dengan mengadakan bank sampah dan melakukan lubang bioporik juga sumur resapan

” Jadi kami membuat tim dasa wisma yang terdiri dari ibu rumah tangga untuk bisa mengolah tanaman sayur dan hidroponik. Kami juga mendirikan tim iklim yang bertugas untuk mengantisipasi terjadi banjir dengam membuat sumur resapan dan lubang bioporik untuk menyerap air.

Kemarin kami mengikuti lomba kampung iklim, dan kami lolos verifikasi dengan nilai terbaik untuk wilayah Maluku. Untuk mengelolah sampah kami membuat bank sampah untuk bisa memilah sampah sesuai jenisnya. Kami juga mengajarkan anak sejak dini untuk tidak membuang sampah sembarangan. Ada juga taman bacaan, posyandu dan posbindu kami kembangkan ini ditingkat kerja RW,” tutupnya. (MG-1)

Comment