by

Kemenag Dinilai Sulit Wujudkan EHA

Ambon, BKA- Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Maluku dinilai sulit untuk mewujudkan Maluku sebagai Embarkasi Haji Antara (EHA).

“Tapi misalkan asrama haji, seperti rencana Kanwil Agama ingin menjadikan tempat EHA, itu memang agak sulit, karena kita ada pada wilayah Indonesia Timur, karena sudah ada pusatnya Embarkasi Haji di Makasar,” ujar salah satu anggota Majelis Taklim Namira Kota Ambon, Hi Irfan Hamka, kepada BeritaKota Ambon, Sabtu (5/12).

Menurutnya, kalau sifatnya hanya transit, untuk melayani Calon Jemah Haji (CJH) dari 11 kabupaten/kota, memang bisa dilakukan sementara di Asrama Haji Waiheru, sambil menunggu jadwal keberangkatan.

Tapi kalau mau dijadikan EHA, kata Irfan, selain sulit, Kanwil Kemenag Maluku juga belum siap secara infrastruktur dan sumber daya manusia, maupun dari segi yang lain, misalnya, menyangkut dengan standar pelayanan EHA.

Misalnya, apakah asrama haji Waiheru sudah representatif untuk jumlah menampung kuota haji Maluku sebanyak 700 CJH. Itu pun belum ditambah dengan kuota tambahan.

“Apakah dengan jumlah kuota itu, apakah mampu difasilitasi Kanwil Kemenag. Yang harus dipikirkan Kemenag, harusnya lebih mampu meningkatkan kualitas pelayanan jamah haji yang ada di asrama haji. Yang ada saja, kerja kurang maksimal dalam pelayanan,” bebernya.

Sebagai orang yang pernah memimpin rombongan haji Kota Ambon, kata Irfana, dalam pelayanan bagi CJH untuk pembekalan materi manasik haji saja, ada beberapa daerah yang belum mendapat perhatian yang baik, khusus tentang cara memberikan manasik haji yang benar.

Hal ini, katanya, harus diperhatikan dengan baik. “Kami dari Majelis Taklim Namira yang setiap tahun melaksanakan manasik haji. Kita hanya sanggup melayani CJH dari Kota Ambon. Tapi kabupaten lain, kita tidak bisa menjangkau kesana. Sehingga peran utama dalam hal ini adalah Kanwil Kemenag Maluku,” cetusnya.

Kemenag, lanjut Irfan, jangan hanya mengurus dana subsidi dari Pemerintah Provinsi yang nilainya kurang lebih sebesar Rp 1 miliar lebih. Itu pun kalau kelola dengan baik dan transfaran, sehingga tidak ada saling curiga antara panitia provinsi dan kabupaten/kota, khususnya Maluku Tenggara, Tual dan Aru, yang jamaah haji-nya berangkat langsung menuju Makasar, tanpa lewat panitia haji Maluku.

Yang menjadi pertanyaan, cara perhitungan bantuan subsidinya. Kalau mereka barangkat tidak melewati panitia haji provinsi, baik biaya transportasi ke Makassar dan selama berada di Asrama Haji Makassar. Ini yang terkadang jadi pertanyaan diantara panitia haji.

“Tidak menuduh, tapi namanya manusia, kadang lemah. Kata mark-up dalam penggunaan anggaran sering terjadi. Mudahan-mudahan ini tidak,” ungkapnya.

Untuk itu diharapkan, Kanwil Kemenag lebih profesional dan banyak belajar dari daerah lain, bagaimana cara pelayanan ibadah haji, khususnya tentang manasik haji.

Bahkan Kanwil Kemenag juga diminta untuk lebih mempersiapkan diri menuju EHA. Sehingga jangan dulu bermimpi ingin cepat-cepat manjadikan Maluku sebagai EHA, kalau dalam internal Kemenag saja belum siap.

“Ingat, EHA itu wajah Maluku. Jadi kalau belum siap dan mau dipaksakan, jangan sampai nama Maluku jadi jelek, hanya karena keegoisan dan memaksakan keadaan,” pungkasnya.(RHM)

Comment