by

Kerusakan Talud Gumumae, Jadi Sorotan Publik

Ambon, BKA- Sejumlah pihak angkat bicara atas kerusakan pembangun talud penahan ombak senilai 1,4 miliar di pantai Wisata Gumumae, Desa Sesar, Kecamatan Bula, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT). Kerusakan talud sepanjang 700 meter itu diminta segera diusut oleh Inpektorat dan Kejari SBT.

Proyek talud Gumumae yang dikerjakan asal-asal ini, ditangani Satker Dinas Pariwisata Kabupaten SBT oleh Kontraktor CV. Julion Jaya Pratama. Pasalnya, pembangunan talud yang didanai dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tahun 2020 senilai 1,4 miliar lebih itu, hasilnya tidak maksimal.

Ketua DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) SBT, Rusdi Rumata mengaku, prihatin atas kondisi talud yang ditangani Dinas Pariwisata SBT. Dirinya menilai, konsultan perencanaan dan kontraktor dari CV. Julion Jaya Pratama, punya percanaan yang sangat buruk.

“Ini akibat dari perancanaan yang buruk. Akhirnya belum sampai batas waktunya, sudah berulangkali hancur berantakan. Padahal, belum ada ombak kuat di kawasan Gumumae,” sebut Rumata, kepada koran ini, usai mengunjungi Pantai Gumumae, Minggu, (07/02).

Menurut dia, KNPI SBT punya tanggungjawab penuh untuk mengkritisi semua persoalan yang terjadi di SBT. “Jadi KNPI adalah mitra kritisnya pemerintah. Hingga persoalan kerusakan seperti talud itu, kita KNPI SBT punya peran penting untuk protes,” ucap dia.

Melihat kondisi talud Gumumae, Rumata meminta kontraktor dan konsultan perencanaan serta dinas terkait untuk segera duduk bersama, demi mencari format baru. Karena pekerjaan talud Gumumae telah rusak parah, padahal baru dibangun.

“Talud ini, mau kerjakan seperti apa tetep kalau abrasi ombak, hancur itu sudah. Masa kedalaman galian hanya 60 sentimeter. Ini perencanaa yang sangat bobrok. Sekali lagi saya sampaikan, perencanaan yang sangat bobrok,” kesalnya.

Atas nama DPD KNPI SBT, lanjut Rumata, perlu agar Inspektorat Daerah Kabupaten SBT dan Kejaksaan Negeri SBT mengambil langkah cepat mengatasi persoasalan ini. “Saya belum mendesak untuk ditangani secara hukum. Karena ini masih dalam tahapan pemeliharaan. Tapi, segera turun dan saksikan bagaimana kondisi talud Gumumae saat ini,” harapnya.

Farid Maruf Suwakul, akademisi lulusan magister di Institit Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon, menyampikan rasa protesnya terhadap persoasalan itu. Kata Farid, semistinya CV. Julion Jaya Pratama, tidak boleh diberikan proyek seperti ini. Karena menurutnya, kontraktor tidak punya rasa cinta terhadap daerah saat membangun.

“Buktinya saat ini, katong (kita) datang lihat. Talud pertama yang dibangun hancur berantakan dibawah ombak. Diperbaiki baru, hancur lagi. Sekarang, tanda patah, paving blok berantakan. Mana kontraktor punya tanggungjawab,” tanya Farid.

Selaku anak negeri kata Farid, dirinya juga sesali Pemerintah Daera SBT. Sebab, banyak anak daerah yang memiliki perusaahan, baik PT maupun CV. Hanya saja, Pemda tidak jelih melihat itu. “Perusaahan luar itu ambil untuk saja. Tidak ada rasa cinta untuk negeri. Kalua anak daerah kan pasti punya kesungguhan dalam bekerja,” sesalnya. (SOF).

Comment