by

Kinerja Satgas Covid-19 Dipertanyakan

Ambon, BKA- Anggota Komisi IV DPRD Maluku, Edwin Adrian Huwae kembali pertanyakan tugas dan fungsi Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Provinsi Maluku dalam fungsi pengawasan protokol kesehatan (prokes) di kota Ambon. Pasalnya, banyak masyarakat yang terlihat tidak mematuhi prokes 3M.

Hal ini dipertanyakan Edwin Huwae, dalam rapat bersama Dinas Kesehatan Provinsi Maluku, di gedung DPRD Maluku, Karpan Ambon, Selasa (26/1).
“Kemarin saya ke arah Tulehu, saya melihat masyarakat ini sudah tidak ada lagi Prokes. Sudah tidak ada lagi penerapan 3M. Dari Pemda mengkampanyekan untuk 3M tetap diberlakukan, bukan hanya di Tulehu, arah dalam kota juga seperti itu. Padahal perkembangan Covid-19 terus terang mencemaskan dengan perpindahan penduduk, dengan dibukanya jalur laut dan udara. Dalam tanda petik, bisa saja terjadi perpindahan virus. Lalu bagiamana dan sejauh mana pengawasan Satgas Covid-19, ini patut dipertanyakan,” tandas Edwin.

Sebagai masyarakat awam, ujar Edwin, selama mengikuti informasi lewat pemberitaan media, dalam penanganan Covid-19 khusus di Maluku, dirinya masih sangat cemas. Maka sebagai anggota Komisi IV yang membidangi kesehatan, perlu mempertanyakan apa saja tugas dan fungsi Satgas Covid-19 saat ini.

Dan terkait lemahnya penerapan prokes di lapangan, kata dia, apakah karena pengawasan prokes tidak ketat di level masyarakat atau kurangnya koordinasi antara Pemprov Maluku dengan kabupaten/kota.

“Hampir setiap sore saya mengikuti data positif Covid-19 lewat data pusat, ada yang nol besok muncul lagi. Saya kembali berpikir, mungkin fasilitas kesehatan kita belum cukup memadai dan tidak tersebar merata untuk kita melakukan tes Covid. Sehingga kadang-kadang angka pertumbuhan virusnya naik turun hingga pernah mencapai angka 100 keatas,” sebutnya.

Mantan Ketua DPRD Maluku ini, dengan gambling mengatakan, informasi dari bagian Humas Satgas atau Gustu Provinsi Maluku belum cukup menyampaikan secara detail terkait data Covid-19. Dan menurutnya, kurangnya sosialisasi sehingga masyarakat bisa saja berpikir kalau sebenarnya Covid tidak ada. Padahal anggaran yang disediakan cukup fantastik untuk penanganan virus Corona.

“Masih ada sebagian kita pada level masyarakat, masih membicarakan antara ada dan tiada Covid ini. Biar menyampaikan dalam cara apapun tetap mereka tidak perduli, mungkin karena faktor-faktor lain. Tapi saya tidak paham,” tutur dia.

Dikatakan, bagi masyarakat yang paham akan Covid tersebut, bagi keluarga yang rentan termasuk yang memiliki bayi, agak khawatir dengan sistim penanganan Covid di Maluku, khususnya di Kota Ambon. Termasuk sejauh mana penanganan pemberlakuan Prokes di 11 kabupaten/kota, terlebih khusus di Kota Ambon sebagai ibu kota provinsi Maluku. (RHM)

Comment