by

Kondisi PKL di Pasar Apung Memprihatinkan

Nasib ratusan Pedagang Kaki Lima (PKL) yang telah direlokasi ke Pasar Apung Mardika, Kecamatan Sirimau, sangat memprihatinkan. Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon lewat dinas terkait terkesan apatis.

Pasalnya, sejumlah lapak yang disiapkan Pemkot sebelumnya di pasar Apung ini, tidak difasilitasi listrik. Padahal para pedagang yang telah menempati lapak yang ada, diharuskan membayar biaya sebesar Rp 3 juta per lapak.

Bukan saja itu, lapak yang mereka tempati itu juga tidak layak digunakan. Sebagian besar papan pada lapak semi permenan itu sudah rapuh. Ukuran lapak yang ditempati juga tidak cukup untuk menaruh barang jualan, karena terlalu kecil dan sempit.

Bahkan para pedagang juga diharuskan membayar biaya pemasangan listrik sebesar Rp 1,3 juta untuk daya 900VA.

Katong (kita) bingung mau kemana. Katong sudah bayar mahal 3 juta per lapak, jadi harus tempati. Cuma papan-papan ini (lapak) sudah busuk. Ruangan kecil, tidak bisa tampung barang jualan. Belum lagi pasang lampu bayar, kesal salah satu pedagang pasar Apung, yang menolak namanya disebutkan, saat menghubungi koran ini, Kamis (8/7).

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Ambon, Sirjhon Slarmanat, beberapa kali diminta tanggapan terkait nasib para pedagang di pasar Apung, justru menghindar.

Saat ditemui pada Selasa (6/7) lalu, mantan Kabag Hukum Pemkot ini justru tidak memperdulikan sejumlah wartawan yang ingin pertanyakan nasib para pedagang di pasars Apung Mardika. Dirinya justru membiarkan wartawan tunggu berjam-jam di depan pintu Balai Kota Ambon.

“Tunggu, nanti saya akan turun dari ruangan sedikit lagi yah,” kata Sirjhon, saat itu, sambil berjalan naik menuju lantai dua balai kota.

Sementara ketika dikonfirmasi, Kamis (8/7) kemarin, Sirjhon juga tak mau berikan komentar banyak. “Mau tanya apa? Iya nanti saya turun pantau dulu,” ucapnya.

Diberitakan sebelumnya, pihak ketika yang diberikan tanggung jawab dari pemerintah untuk mengelola pasar Apung, justru meminta para pedagang untuk memasang listrik pada lapak masing-masing secara mandiri. Yakni sebesar Rp 1,3 juta.

Mau tak mau, sebagian pedagang yang ada telah membayar biaya pemasangan listrik tersebut. Namun tidak secara mandiri, tetapi setiap 4 pedagang bentuk kelompok untuk menggunakan satu meteran listrik. (IAN)

Comment