by

Kualitas Pendidikan Tergantung Orangtua dan Anak

Ambon, BKA- Selama pola Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) masih diberlakukan, maka kualitas pendidikan masih bergantung pada orangtua dan siswa itu sendiri. Demikian ungkap Kepala SD B2 Urimessing, C. Salawanej, Jumat (22/1).

Sebab, katanya, peran guru pada pola PJJ yang dilaksanakan secara Daring maupun Luring sangat minim. Yakni, guru hanya menyiapkan materi pelajaran, sedangkan orangtua yang melaksanakan pembelajaran.

“Kan kita belajar secara online dan manual, sehingga sudah atur teknisnya. Untuk yang belajar luring, guru siapkan materi, kemudian diberikan kepada siswa. Orangtua diminta datang ke sekolah, lalu guru jelaskan materi untuk nanti dilanjutkan kepada anak di rumah. Kalau yang Daring, hanya beberapa mata pelajaran yang dirasa perlu tatap muka secara online. Misalnya, Matematika, Bahasa Indonesia, PKN, dan Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesenian (PJOK). Jadi soal berkualitas atau tidak, itu sebenarnya tergantung orangtua dan anak. Tidak semuanya guru,” ungkap Salawanej.

Namun untuk menghindari atau setidaknya mengurangi ketergantungan itu terhadap orangtua dan siswa, pihaknya sudah menjadwalkan setiap guru untuk melakukan kunjungan rumah.

Hal itu dilakukan, agar guru dapat melakukan evaluasi proses belajar anak selama sepekan. Jika ada siswa yang belum memahami materi sesuai penjelasan orangtua, maka guru bertangggungjawab untuk menjelaskan.

Dengan begitu, guru dapat meastikan kalau siswa mengerti dan memahami materi pelajaran yang diberikan dengan baik.

“Dari semester ganjil sampai hari ini, kita masih tetap dengan pola yang sama. Selain siapkan materi, ada juga kunjungan belajar rumah. Masing-masing wali kelas turun langsung ke rumah siswa untuk mengajar. Jadi wali kelas sudah atur, satu minggu itu kira-kira berapa kali wali kelas turun ke rumah. Disamping itu, orangtua juga diminta melaporkan hasil belajar anak selama 1 minggu. Karena materi yang disiapkan itu kan per tema. Jadi setelah materi siap, orangtua datang ke sekolah supaya guru jelaskan materi. Itu kita lakukan, untuk memastikan sebelum kita masuk materi berikut, siswa sudah mengerti materi sebelumnya,” paparnya

Walau demikian, ungkap Salawanej, tetap saja ada kendala. Berbeda dengan proses belajar tatap muka, dimana guru dapat berinterakasi langsung dengan siswa di kelas.

Untuk itu, dia terus meminta dukungan dan kerjasama orangtua terhadap proses PJJ yang dilakukan. Agar berbagai kendala yang dihadapi dapat teratasi.

“Kalau ada dukungan dan kerjasama, saya yakin anak-anak tetap belajar dengan baik. Walaupun sebenarnya berbeda dengan belajar tatap muka. Tapi kan, tidak mungkin dipaksakan untuk itu. Jadi kita ikut aturan yang ada saja. Semoga pandemi cepat berakhir, supaya kita bisa kembali belajar tatap muka,” harap Salawanej. (LAM)

Comment