by

Kurang Pengawasan Orangtua, Pemicu Kekerasan Anak

Ambon, BKA- Sepanjang 2020 lalu, Pengadilan Negeri Ambon mencatat menyidangkan sebanyak 58 kasus pencabulan dan persetubuhan, atau kekerasan terhadap anak dibawah umur.

Tentu saja, hal tersebut sangat disayangkan. Mengapa hal tersebut bisa terjadi. Apalagi pelakunya merupakan kerabat dekat korban atau warga sekitar tempat tinggalnya.

Humas Pengadila Negeri Ambon, Lucky R. Kalalo, mengungkapkan, rata-rata dipersidangan kasus kekerasan terhadap anak, pelaku merupakan orang dekat korban, yakni, tetangga, ayah kandung, bisa juga pacar korban sendiri.

Ada banyak alasan terjadinya kasus pencabulan dan persetubuhan, atau kekerasan terhadap anak dibawah umur. Bisa karena dipicu minuman keras (miras), ada juga karena kelainan jiwa.

“Jadi karena dia tidak bisa mampu menahan napsu sehingga melampiaskan ke anak-anak sendiri,” terang Kalalo, Minggu (17/1).

Tapi ada terjadi karena pelaku merupakan pacar korban. Sehingga terjadi atas dasar suka sama suka. Padahal undang-undang melarang tidak boleh anak-anak melakukan hal seperti itu.

Hakim Pidana Umum itu mengaku, kebanyakan dari korban juga masih berusia 14 tahun sampai 17 tahun. Mereka kebanyakan sudah memiliki pacar. “Anak-anak masih sekolah sudah pacaran. Padahal umur belum dewasa. Ini yang menjadi salah satu pemicu juga terjadinya kekerasan itu,” imbuhnya.

Semua kasus kasus-kasus persetubuhan terhadap anak dibawah umur itu bisa dihindari, terangnya, dengan adanya pengawasan intens dari pihak orangtua.

“Bisa dibilang ini semua terjadi karena kurangnnya pengawasan orangtua terhadap anak itu sendiri. Kalau anak masih sekolah, mestinya orang tua awasi. Cari tahu kemana saja dia punya pergaulan. Bahkan apa saja, kalau orang tua mengawasi dengan baik, pasti tindakan kekerasan terhadap anak-anak tidak terjadi,” jelasnya.

Lucky menghimbau, kepada masyarakat agar tetap melakukan pengawasan ekstra terhadap anak-anak, apalagi anak perempuan. Hal ini dilakukan supaya tidak lagi terjadi tindakan yang tak diinginkan, yang dapat membuat buruk masa depan anak itu sendiri.

“Semoga di tahun ini, kasus kekerasan terhadap anak dibawah umur, tidak lagi terjadi seperti tahun 2020 kemarin,” pungkasnya.(SAD)

Comment