by

Kurikulum Darurat Mempermudah PJJ

Ambon, BKA- Proses pembelajaran mulai disesuaikan dengan kurikulum darurat di Kota Ambon dinilai mempermudah Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang dilakukan secara Daring maupun Luring dari Rumah, di tengah pandemi Covid-19.

Hal itu diungkapkan oleh Kepala SD Teologi Kristen Suli, Sintdje Ratila. Menurutnya kurikulum darurat turut mempermudah proses Belajar Dari Rumah (BDR), baik secara Daring maupun Luring.

Pasalnya, dalam kurikulum khusus itu, pemerintah telah memberikan ruang bagi sekolah untuk menyederhanakan materi pembelajaran sesuai dengan yang dibutuhkan oleh siswa.

Hal tersebut sebagaimana yang diatur dalam keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nomor 719/P/2020 9-tentang Pedoman Pelaksanaan Kurikulum pada Satuan Pendidikan dalam Kondisi Khusus, satuan pendidikan dalam kondisi khusus dapat menggunakan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran peserta didik.

“Artinya, pemerintah kini telah memberikan fleksibilitas bagi sekolah untuk memilih kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran siswa dalam kondisi khusus. Kita kan dalam kondisi khusus, karena masih dalam zona merah. Itu berarti, kurikulum darurat ini harus dilakukan,” ujar Ratila (22/10).

“Memang secara teknis, kita sudah lakukan lebih dulu. Jadi, dengan adanya keputusan Mendikbud ini, justru akan semakin membantu kita dalam menyiapkan materi belajar mengajar. Puji Tuhan, SD Teologi Kristen Suli masih lakukan proses belajar dengan baik,” ungkapnya.

Kurikulum darurat, katanya, memang masih tetap mengacu pada Kurikulum Nasional, namun karena Covid-19, sehingga sekolah diberikan kesempatan melakukan penyederhanaan kurikulum secara mandiri. Dalam hal ini, memberlakukan materi esensial selama masih dalam kondisi khusus, seperti di Kota Ambon.

“Memang kurikulum khusus ini, tidak menjawab semua kebutuhan kita, tapi saya kira, sudah turut memudahkan kita dalam menyiapkan materi pembelajaran. Tinggal bagaimana masing-masing kita memahami maksud dari kurikulum darurat ini,” tegasnya.

Menurutnya, dengan kurikulum darurat itu, guru dapat membatasi materi yang dianggap sebagai penunjang. Agar materi tidak terulang pada pembelajaran semester berikutnya.

“Artinya, materi yang sama tidak lagi diajarkan secara berkelanjutan pada semester selanjutnya. Sampai adanya keputusan baru. Kan, setiap KD itu, biasanya berkelanjutan. Jadi, meskipun sudah diajarkan pada semester I, masih akan dilanjutkan di semester II,” tuturnya.

“Dengan adanya kurikulum darurat, untuk sementara ini, kita tidak gunakan itu, melainkan materi yang penting-penting saja. Sebab, saat ini, waktu belajar dibatasi. Untuk itu, tidak bisa kita paksakan untuk ajarkan semua materi. Yang penting anak-anak ini bisa belajar saja itu sudah cukup. Jadi, menurut Saya, kurikulum darurat ini sangat memudahkan,” tandasnya. (LAM)

Comment