by

Lima Pembunuh di Kopertis Dituntut Bervariasi

Ambon, BKA- Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Ambon, Elsye B. Leonupun, menuntut lima terdakwa kasus penganiayaan mengakibatkan tewasnya korban di Kawasan Kopertis, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, dengan ancaman hukuman bervariasi, pada sidang yang berlangsung di Pengadilan Negeri Ambon, Selasa (19/1).

Pada sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim, Ahmad Ukayat Cs itu, JPU mengatakan, dua terdakwa, yakni, Marten Noya alias Ateng (58) dan Fulton Ronson Saptenni alias Toton (45), dituntut 3 tahun penjara. Sedangkan tiga terdakwa lainnya, yakni, Reinaldo Wendy Siahaya alias Ongen (43), Ronny Papilaya alias Iron (35) dan James Bernand Saptenno alliasames (53), terancam lima tahun penjara.

“Menyatakan kelima terdakwa bersalah melakukan tindak pidana penganiayaan secara bersama-sama, mengakibatkan korban meninggal dunia,” ungkap JPU, dalam amar tuntutan dalam sidang yang dihadiri kuasa hukum terdakwa, yakni, Fileo Pistos Noija dan Firel Sahetapy.

JPU menyatakan, para terdakwa terbukti bersalah melanggar pasal 170 ayat 2 ke 3, KUHPidana, serta memerintahkan agar terdakwa tetap ditahan.

“Meminta kepada majelis hakim agar memvonis terdakwa sebagaimana yang disampaikan dalam amar tuntutan JPU tersebut,” jelasnya.

Yang meringankan, para terdakwa berlaku sopan dipersidangan, dan mengakui semua perbuatan yang dilakukan. Sedangkan yang memberatkan, perbuatan kelima terdakwa mengakibatkan hilangnya nyawa orang.

JPU dalam berkas dakwaannya menguraikan, perbuatan kelima terdakwa terjadi pada 8 Juli 2020, tepatnya di Wisma Gonzalo Kopertis, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon.

Kejadian bermula ketika terdakwa Marten Noya dan Fulton Ronson Saptenni sementara bekerja. Mereka mendengar ada teriakan untuk menangkap pencuri.

Saat bertemu dengan korban, mereka langsung menganiaya korban dengan parang. Terdakwa yang lainnya datang, juga memukul korban menggunakan kepalan tangan.

Setelah itu mereka melaporkan kepada RT setempat, bahwa telah menangkap pencuri. Sayangnya korban kembali dipukul berulang kali ketika sudah di rumah RT. Setelah dipukul mereka langsung meninggalkan korban begitu saja.

Setelah mendengar hal ini, Bhabinkamtibmas datang menghubungi anggota Polsek Sirimau untuk datang dan membawa korban ke rumah sakit, guna mendapatkan pertolongan medis. Setelah itu, 9 Juli 2020, korban dinyatakan oleh pihak rumah sakit Bhayangkara bahwa telah meninggal dunia.

Dari hasil autopsi dtemukan, korban yang sudah berumur kurang lebih 37 tahun itu mengalami luka robek di puncak kepala sebelah kiri akibat kekerasan tumpul, memar di sekujur tubuhnya dan luka lecet. (SAD).

Comment