by

LIRA Dukung Kejati Dikasus PLTMG

Ambon, BKA- LSM LIRA Maluku mendukung langkah Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku, untuk segera menetapkan tersangka dalam kasus dugaan korupsi pembelian lahan untuk pembangunan kantor PLTMG Namlea, Kabupaten Buru.

Dirtektur LIRA Maluku, Jan Sariwating, mengatakan, jika memang sejumlah bukti dari saksi sudah dikantongi tim penyidik, maka sebaiknya Kejati jangan lagi berlama-lama untuk menetapkan tersangka dalam kasus tersebut.

Apalagi dari hasil audit, ada indikasi kerugian negara. Maka jaksa tidak boleh lama-lama dalam penyidikan, karena memang publik sedang menanti progres akhir dari penyidikan kasus ini.

“Kita mendukung Kejati untuk jerat tersangka dalam kasus ini. Sebab bukan soal siapa tersangkanya, tapi ini soal uang negara Rp 6 miliar yang sudah digunakan tidak sesuai peruntukannya,” ungkap Sariwating, ketika dihubungi melalui selulernya, Minggu (25/10).

Kasi Penkum Kejati Maluku, Samy Sapulette, yang dikonfirmasi, mengatakan, untuk progres penetapan tersangka, dirinya tidak punya kewenangan terhadap hal tersebut.

Tapi setahu dia, kasus tersebut masih dalam pemeriksaan saksi-saksi terkait. “Kamis pekan kemarin, itu ada pemeriksaan saksi. Saksi A.G.L. Dia diperiksa 30 pertanyaan oleh penyidik. Dan agenda tim penyidik saat ini masih berputar dalam pemeriksaan saksi-saksi,” ungkap Sapulette.

Sebelumnya diberitakan, Tim Pidsu Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku kembali mendalami Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Fery Tanaya, karena diduga menjadi aktor utama dibalik kasus penjualan lahan untuk pembangunan Kantor PLTMG Namlea, Kabupaten Buru, yang mengakibatkan kerugian negara Rp 6 miliar lebih.

Sumber penyidik di Kejati Maluku, mengatakan, BAP Fery Tanaya hingga kini masih dipelajari secara teliti oleh tim pidsus.

Ini juga akan dijadikan bahan pertimbangan penyidik, apakah Fery Tanaya akan dipanggil lagi untuk untuk dimintai keterangnyya sebagai saksi atau tidak.

“Kan penyidik butuh pendalaman. Sehingga BAP dia itu harus diteliti baik-baik. Apakah nanti dia dipanggil lagi ataukah tidak,” ungkap sumber itu di halaman kantor Kejati Maluku, Rabu 21/10).

Kasi Penkum Kejati Maluku, Samy Sapulette, yang dikonfirmasi terkait hal itu, mengatakan, dia tidak tahu. Karena tidak menerima informasi tersebut dari tim penyidik.

Yang jelas, katanya, untuk kasus tersebut, penyidik sedang memeriksa saksi-saksi terkait.

Jaksa dua bunga melati di pundak itu mengatakan, sejauh ini, penyidik sudah memeriksa sekitar 17 saksi dalam perkara ini.

“Yang saya tahu hanya agenda pemeriksaan saksi-saksi oleh penyidik. Dan untuk semua saksi yang diperiksa berjumlah 17 saksi,” tandas Sapulette di ruang kerjanya.

Sebelumnya, penyidikan kasus dugaan tipikor pada pembangunan Kantor PLTMG Namlea terus digelar Penyidik Pidsus Kejati Maluku dan Kejari Buru.

Kali ini, tim penyidik melakukan pemeriksaan terhadap dua pegawai dari kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Buru di Namlea.

Kasi Penkum Kejati Maluku, Samy Sapulette, mengatakan, dua saksi yang dicecar tim berbaju cokelat itu, yakni, saksi PS dan A.I.T. Keduaya diperiksa secara terpisah oleh tim penyidik.

“Dua saksi dari BPN Namlea, mereka adalah saksi P.S. dan A.I.T. pemeriksaan kepada keduanya secara terpisah,” ungkap Sapulette, Selasa (20/10).

Kata dia, pemeriksaan berlangsung untuk kedua saksi, pertama saksi P.S diperiksa sejak pukul 11.30-13.00 WIT, sedangkan saksi A.I.T diperiksa sejak pukul 12.00 WIT sampai 13.30 WIT.

“Kedua saksi dicecar dengan 16 pertanyaan. Dan pemeriksaan juga berlangsung di kantor Kejari Buru,” tandas Sapulette.

Sementara itu, sumber penyidik di Kejati Maluku, mengatakan, sekalipun Kasi Penkum Kejati Maluku tidak menjelaskan secara detail terkait materi pemeriksaan yang berlangsung. Namun yang jelas, pemeriksaan itu seputaran transaksi penjualan lahan yang dilakukan Fery Tanaya kepada PLN Wilayah Maluku-Malut.

“Materinya kan soal transaksi jual beli lahan untuk kantor PLTMG itu, karena memang jaksa lagi marathon dalam penyidikan kasus ini,” pungkas sumber itu menolak namanya di korankan.(SAD).

Comment