by

LIRA Soroti Kasus Irigasi Sariputih

AMBON-BKA, Direktur Lira Maluku, Jan Sariwating, melihat ada sesuatu yang ganjil pada kasus dugaan korupsi pekerjaan proyek irigasi di Desa Sariputih, Kecamatan Seram Utara Kobi, Kabupaten Maluku Tengah.

Terhadap penanganan kasus proyek tahun 2017 senilai Rp 2 miliar itu, Sariwating menduga ada ketidaktranparansian yang dilakukan oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Maluku Tengah.

Menurutnya, keganjilan terlihat dari progres penyidikan yang tiba-tiba tak terlihat lagi. Padahal penetpan tersangka sudah dilakukan sejak lama, tapi sampai sekarang kasus belum bergulir di pengadilan.

“Kita sayangkan sekali kinerja Kejari Malteng. Soalnya berkas perkara ini sudah begitu lama, belum diserahkan ke pengadilan juga. Ini ada apa?” ujar Sariwating, Minggu (25/7).

Jika Kejari Malteng transparan dalam penanganan kasus ini, katanya, maka sudah tentu kasus tersebut sudah bergulir ke pengadilan.

“Jangan jaksa beralibi bahwa berkasnya masih di BPKP. Kan ada koordinasi. Masa koordinasi dibangun begitu lama? Padahal sudah ada tersangka dalam kasus ini. Kita harap Kejari Malteng transparan saja,” katanya.

Diketahui, lima tersangka telah dijerat dalam kasus ini, masing-masing, Ahmad Litiloly selaku PPTK, Markus Tahya selaku pembantu PPTK, Yonas Riuwpassa selaku Dirut CV Surya Mas Abadi, Benjamin Liando selaku peminjam perusahaan atau kontraktor, dan Megy Samson selaku KPA.

Sebelumnya, Kasi Pidsus Kejari Malteng, Asmin Hamja, mengatakan, berdasarkan hasil penyidikan, lima tersangka ini diduga bertanggungjawab dalam proyek irigasi tersebut. Bahkan terindikasi, proyek ini dikerjakan, tapi dimark-up alias tidak sesuai kontrak.

Dari anggaran Rp 2 miliar proyek itu, ada anggaran sekitar Rp 800 juta lebih yang disalahgunakan, sesuai hitungan ahli dilapangan.

Lima tersangka tersebut diancam melanggar pasal 2 ayat (1) atau pasal 3, jo pasal 18 UU Nomor 31 tahun 1999, jo UU Nomor 20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi, jo pasal 55 ayat (1) KUHP. (SAD)

Comment