by

Mahasiswa Demo Tolak PPKM di Ambon

Ratusan Mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi di Kota Ambon, banjiri kantor Walikota Ambon untuk menyuarakan aksi penolakan terhadap Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro diperketat lewat Instruksi Walikota, Jumat (16/7).

Mereka protes kebijakan Pemerintah Kota Ambon karena dinilai terlalu membatasi ruang gerak masyarakat.

Pantauan Koran ini, aksi unjuk rasa itu sempat memanas antara massa pendemo dengan aparat kepolisian dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-PP) yang bertugas menjaga pintu masuk gedung Balai Kota Ambon.

Beberapa pendemo bahkan sempat diamankan aparat kepolisian karena dinilai melakukan hal-hal yang tidak beretika dalam demonstrasi.

Insiden itu, tidak berlangsung lama. Sebab bertepatan dengan waktu shalat Jumat. Mahasiswa pun kemudian bergerak ke Masjid Raya Al Fatah.

Sepanjang perjalanan menuju masjid terbesar di kota Ambon ini, ratusan mahasiswa melakukan orasi secara bergantian. Dengan tuntutan, agar PPKM Mikro yang dipekertat lewat instruksi walikota nomor 3 tahun 2021 itu segera dihapuskan.

Usai shalat Jumat, para demonstran ini kembali ke kantor walikota untuk melanjutkan aksinya. Arus lalu-lintas di sepanjang Jalan A. Y. Patty menjadi macet. Termasuk jalan Sultan Hairun (depan kantor walikota).

Namun aksi tersebut tidak terkendali, hingga puluhan mahasiswa dipukul dan diamankan aparat kepolisian. Karena dianggap melawan petugas.

Tak sampai disitu, mahasiswa terus melakukan gerakan penolakan terhadap kebijakan Pemerintah Kota itu.

“Kami berhak menyampaikan pendapat. Jangan melakukan tindakan kekerasan kepada kami,” teriak pendemo.

Puluhan mahasiswa yang diamankan dalam pelataran Balai Kota, terus terus melakukan aksi protes. Mereka ingin PPKM segera dicabut.

“Cabut, cabut cabut PPKM, cabut PPKM sekarang juga. Kami ingin walikota cabut PPKM, karena sudah batasi aktivitas masyarakat,” teriak Korlap.

Selain penolakan PPKM, massa juga menolak Warga Negara Asin (WNA) yang masuk ke kota Ambon. Mereka menilai, jika WNA masuk ke Ambon, kemungkinan besar menyebabkan angka kasus positif Covid-19 meningkat.

“Kami bukan teroris, kami mahasiswa, tapi kami dipukul. Ada bukti kami dipukul. Semua ini dilakukan anggota Pol-PP dan Polisi,” teriak beberapa mahasiswa, dalam aksi itu.

Mereka juga menilai, tim Satgas Covid-19 Kota tidak serius menangani masalah Covid-19 yang sudah mewabah lebih dari satu tahun ini. “Kalian tidak kasih kita masker. Padahal kita yang ada disini tidak pakai masker, karena terlepas saat diamankan. Satgas tidak serius menjalankan tugas,” kata Risno lagi.

Selang beberapa menit kemudian, Puluhan mahasiswa itu dilepaskan, karena takut dapat memantik kericuhan. Mereka kemudian digiring aparat kepolisian dan sejumlah Satpol PP keluar dari Balai Kota.

Sesudah itu, nampak ratusan mahasiswa pelan-pelan membubarkan barisan dari Kantor Walikota. Mereka berkerumunan di dalam taman Gong Perdamaian, dan beberapa jam berikut mereka membubarkan aksi. (IAN)

Comment