by

Maluku Waspada Banjir dan Gelombang Tinggi

Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pusat mengeluarkan peringatan dini mengantisipasi bencana banjir untuk sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk Maluku dengan status waspada. Ini mengingat beberapa wilayah di Maluku telah memasuki musim penghujan.

Lewat rilis BMKG yang diterima koran ini, Sabtu (15/5), kondisi cuaca ekstrim di wilayah Maluku ini berlaku hingga tanggal 20 Mei 2021. Yakni berdasarkan data klimatologi, beberapa wilayah di Maluku yang mulai memasuki musim hujan, diantaranya, Kota Ambon, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng), Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) dan kabupaten Buru Selatan (Bursel).

Sesuai hasil analisis, pola angin didominasi angin timur. Kemudian kondisi suhu permukaan laut yang cenderung menghangat, khususnya di Laut Banda dan Laut Seram, sehingga mendukung tersedianya suplai air untuk pertumbuhan awan-awan hujan.

Secara lokal, pertumbuhan awan-awan hujan (Cumulonimbus) yang menyebabkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai kilat/petir dan angin kencang sesaat, masih berpotensi terjadi.
Sehingga masyarakat diminta untuk waspada terhadap hujan sedang hingga lebat, yang disertai kilat/petir dan angin kencang sesaat lebih dari 30 km per jam, yang berpotensi terjadi di wilayah kota Ambon, Bursel, Malteng, SBB dan SBT, hingga satu minggu kedepan.

“Masyarakat dihimbau untuk tetap waspada potensi cuaca ekstrem selama musim hujan, penurunan jarak pandang secara tiba-tiba, serta dampak bencana hidrometeorologi yang dapat terjadi seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, dan pohon tumbang,” isi rilis tersebut.

Kepala Stasuin Meteorologi Kelas II Pattimura Ambon, Kamari, saat dihubungi koran ini, Minggu (16/5), mengaku, dengan status waspada untuk beberapa wilayah di Maluku yang telah memasuki musim penghujan, kemungkinan masih akan terjadi. Sehingga masyarakat diminta untuk selalu waspada dengan kondisi hujan yang terjadi saat ini.

“Kita akan selalu lakukan pantauan dan diupadate. Karena Maluku saat ini sudah memasuki musim hujan. Dan curah hujannya sangat signifikan. Maka perlu kewaspadaan terhadap peluang bencana yang akan terjadi,” pesan Kamari.

Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi Maritim Ambon, Ashar, lewat rilisnya menyebutkan, kondisi gelombang tinggi juga masih terjadi di beberapa wilayah, yang diprakirakan bertahan hingga hari ini.

Diantaranya, tinggi gelombang mencapai 1,25 hingga 2,50 meter, berpeluang terjadi di Laut Seram Bagian Barat dan Timur, perairan Pulau Ambon dan Kepulauan Lease. Kemudian perairan Selatan Pulau Seram, Laut Banda bagian Timur, perairan Sermata-Leti, perairan Babar dan perairan Kepulauan Aru.

Kemudian untuk tinggi gelombang 2,50 hingga 4,0 meter, berpeluang terjadi di perairan Pulau Buru, Laut Banda, perairan Kepulauan Tanimbar, perairan Kepulauan Kai, Laut Arafuru bagian Barat dan Tengah.

Menurut Ashar, kecepatan angin tertinggi terpantu di Laut Banda bagian Barat, perairan kepulauan Kei, kepulauan Aru, Laut Arafuru, perairan Yos Sudarso, Merauke, perairan Utara Kepulauan Sangihe, dan Kepulauan Talaud. Sehingga kondisi ini mengakibatkan peningkatan tinggi gelombang di sekitar wilayah tersebut.

Sehingga perlu diperhatikan resiko tinggi terhadap keselamatan pelayaran. Yakni untuk perahu nelayan, kecepatan angin lebih dari 15 knot dan tinggi gelombang diatas 1,25 meter. Kemudian kapal tongkang, kecepatan angin lebih dari 16 knot dan tinggi gelombang diatas 1,5 meter. Kapal Ferry, kecempatan angin lebih dari 21 knot dan tinggi gelombang diatas 2,5 meter. Dan untuk kapal besar seperti kargo atau pesiar, kecepatan angin lebih dari 27 knot dan tinggi gelombang diatas 4,0 meter.

“Dimohon kepada masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di pesisir sekitar area yang berpeluang terjadi gelomabng tinggi, agar tetap selalu waspada,” himbau Ashar. (UPE).

Comment