by

MAN Ambon Terapkan Kurikulum Darurat

Ambon, BKA- Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Ambon mulai menerapkan kurikulum darurat, sebagaimana panduan kurikulum yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama (Kemenag) RI.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum MAN Ambon, Andi Rahmani Abidin, mengatakan, dengan menerapkan kurikulum darurat tersebut, proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) telah tersistem. Karena kurikulum itu telah mengatur semua alur pembelajaran selama masa pandemi Covid-19. Salah satunya, mengurangi jumlah mata pelajaran (Mapel) untuk setiap harinya.

“Jadi setiap hari, hanya dua Mapel yang diajarkan. Satu Mapel hanya satu jam. Dengan aturan itu, maka hanya sekitar 15 Mapel yang kita masukan dalam jadwal pada kuirkulum darurat ini. Sedangkan secara keseluruhan, ada sekitar 19 Mapel. Itu berarti ada 4 Mapel yang tidak masuk dalam jadwal. Tapi kita sudah mengatur itu secara baik. Jadi semua Mapel bisa berjalan dengan catatan harus pada waktu yang efektiif,” ucap Abidin, Selasa (21/7).

Menurutnya, ada tiga model pembelaljaran yang sebelumnya sudah disiapkan oleh MAN Ambon.Yaitu, pembelajaran secara Daring atau online, secara new normal, dan secara regular atau seperti biasanya.

Tiga pola pembelajaran itu sudah diatur sesuai dengan kondisi. Namun karena telah menggunakan kurikulum darurat, maka pola pembelajaran yang saat ini tengah dilakukan, yakni, Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) secara Daring atau online.

“Intinya kurikulum darurat itu sudah kita lakukan sejak 13 Juli kemarin. Anak-anak sudah mulai belajar menggunakan pola PJJ. Kalau sebelumnya, kan guru memberikan materi hanya dari rumah. Sekarang ini, sudah diatur. Jadi, ada sebagian yang mengajar dari sekolah dan juga dari rumah. Tapi tidak secara tatap muka, melainkan secara jarak jauh,” paparnya.

Dengan adanya kurikulum darurat tersebut, kata Abidin, bukan untuk menuntut siswa tuntas secara akademik. Melainkan dibina dan didik untuk tetap bertahan dalam situasi pademi saat ini.

“Itu himbauan dari pemerintah. Kalau kurikulum darurat tidak harus ketuntasan secara akademik. Kemudian juga tidak memberatkan siswa dalam sistemnya. Yang terpenting, anak-anak tidak kehilangan kesempatan untuk belajar ditengah pandemi ini,” tandas Abidin. (LAM)

Comment