by

Mantan Gubernur Diduga Terseret Korupsi Rumdis Poltek

Mantan Gubernur Maluku, Karel Albert Ralahalu, diduga terseret kasus dugaan pembangunan Rumah Dinas (Rumdis) Politeknik Negeri Ambon.

Ralahalu pada 17 Maret lalu, diketahui mendatangi markas Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Maluku, untuk diperiksa terkait dugaan kasus korupsi itu.

Kasus dugaan korupsi rumdis Poltek Ambon yang dianggarkan APBN di tahun 2007, 2008, 2009 dan 2010, diduga fiktif. Sehingga diduga menyebabkan kerugian negara senilai Rp 1,3 miliar lebih.

Rekanan proyek ini adalah PT Nusa Ina Pratama, pimpinan Jusuf Rumatoras yang merupakan terpidana kasus korupsi kredit macet di Bank Maluku tahun 2006, senilai empat miliar rupiah.

“Iya benar. Beliau (mantan Gubernur Maluku, Karel Ralahalu) diperiksa dalam kasus pembangunan rumah dinas Politeknik Negeri Ambon tahun 2007, 2008, 2009 dan 2010. Jadi itu empat tahun anggaran,” ungkap Kanit II Subdit Tipikor Ditreskrimsus, Kompol Laurens Werluka, di ruang kerjanya, Senin (22/3).

Mantan Gubernur Maluku dua periode itu diperiksa dalam kapasitas selaku saksi. Karena kasus yang sudah ditahap penyidikan, ada keterkaitan rekanan PT Nusa Ina Pratama dengan Koperasi Pegawai Negeri Sipil (PNS) Pemprov Maluku.

Dalam pengerjaan proyek tersebut, PT Nusa Ina sebagai perusahaan yang melakukan pembangunan perumahan BTN, yang lokasinya di Poka, Kecamatan Teluk Ambon.

“Pembangunan perumahan yang dikelola oleh PT Nusa Ina di Poka dan ada hubungan dengan koperasi PNS Pemprov Maluku. Nah ini yang beliau (Ralahalu) diperiksa. Karena ada tandatangan SK untuk pengembangan perumahan oleh koperasi PNS tersebut,” beber dia.

Untuk memperkuat proses penyidikan, Ralahalu selaku Gubernur Maluku saat itu, perlu dimintai keterangan. “Kasus tersebut, proyeknya fiktif. Nusa Ina sudah ambil uang dan itu empat tahun anggaran. Katanya bangun di perumhan Pemda itu. Ternyata indikasnya, PT Nusa Ina mengambil untung disitu,” akuinya.

Menurut dia, sejauh ini, sejumlah saksi sudah diperiksa. Penyidik optimis untuk menuntaskan kasus tersebut. “Kasus ini zamannya Direktur Politeknik Nikijuluw,” pungkas Werluka. (SAD)

Comment