by

Masyarakat Adat Minta Presiden Keluarkan Regulasi Tambang Rakyat Gunung Botak

BURU-BKA, Masyarakat adat Kabupaten Buru, meminta Presiden RI, Joko Widodo, secepatnya mengeluarkan regulasi terkait pertambangan rakyat di Kawasan Gunung Botak.

Permintaan masyarakat adat tersebut disampaikan, usai pertemuan dengan Sekertaris Daerah (Sekda) Kabupaten Buru, M Ilias Hamid, di Kantor Bupati Buru, Kamis (5/8).

Kondisi aktivitas pertambangan ilegal kawasan Gunung Botak, Kabupaten Buru

Terdapat sejumlah poin yang dibahas dipertemuan itu. Salah satunya, terkait penerbitan Izin Pertambangan Rakyat (IPR) dari Pemerintah Pusat, yakni, Presiden RI.

Ketua Dewan Adat Kerajaan Buru, Agus Nurlatu, menjelaskan, permintaan tersebut disampaikan agar masyarakat Buru, khususnya masyarakat adat, bisa mencari nafkah dengan tenang di kawasan Gunung Botak.

Baca juga: Desakan Ekonomi, Masyarakat Kembali Rambah Gunung Botak

“Kami masyarakat adat meminta Presiden dan Wakil Presiden, serta Gubernur Maluku dan Pemerintah Kabupaten Buru, untuk membuka tambang emas Gunung Botak secara resmi dan legal, sesuai aturan yang berlaku,” kata Nurlatu.

Menurut dia, dengan kondisi pandemi Covid-19 saat ini, masyarakat adat hanya bisa berharap mendapatkan nafkah dari Gunung Botak, karena sudah tidak ada lagi mata pencarian lain.

“Karena tambang Gunung Botak belum ada perintah dari kepala-kepala adat satu pun terkait pembukaan Gunung Botak, tapi itu inisiatif dari masyarakat adat dengan kepentingan untuk mereka punya anak-anak sekolah dan kepentingan Covid-19,” ujarnya.

Ditambahkan oleh tokoh adat Pulau Buru lainnya, Bagin Solissa, memang kehidupan sehari-hari masyarakat disana ada pada tambang. Sehingga mereka berharap, pemerintah segera mengeluarkan regulasi atau aturan-aturan baru, agar masyarakat beraktivitas di kawasan Gunung Botak tanpa takut. Karena setiap minggu, pihak TNI dan Polri selalu melakukan penertiban di kawasan itu.

Baca juga:
Masyarakat Minta Legalkan Tambang Gunung Botak

“Karena tuntutan ekonomi, maka mau tidak mau, apapun rintangannya, apapun aturan yang melarang, tetap kami cari hidup diatas gunung dan kami mencari nafkah hanya dapat 1 gram emas, itu sudah syukur. Tolong lihat masyarakat Buru, terkhususnya lagi masyarakat adat,” kata Solissa.

Menurut dia aktivitas penambangan emas ilegal ini dilakukan oleh masyarakat, karena terpaksa. Sudah tidak ada pilihan lain, selain bekerja di kawasan Gunung Botak.

“Hal tersebut dilakukan karena tidak ada lagi pilihan lain, selain melakukan aktivitas penambangan emas di Kawasan Gunung Botak,” pungkas Solissa.(MSR)

Comment