by

Masyarakat Dihimbau Tak Khawatir Divaksinasi

Ambon, BKA- Anggota Komisi IV DPRD Maluku, Andi Munaswir menghimbau, agar masyarakat di Maluku tidak perlu khawatir dengan rencana vaksin Covid-19 dari Sinovac oleh pemerintah daerah. Sebab menurutnya, sebelum didistribusikan ke daerah, vaksin tersebut telah diuji klinis.

“Menyusul adanya berita-berita miring terkait keamanan dan kehalalan vaksin, ini telah membuat kepanikan di tengah masyarakat. Kita harap masyarakat tidak khawatir,” ungkap Andi, saat dihubungi koran ini, Kamis (7/1).

Dikatakan, sebelum didistribusikan ke daerah-daerah termasuk Maluku, vaksin Covid-19 tersebut telah diuji secara klinis kepada manusia. Sehingga vaksin Covid-19 ini sudah melalui fase seperti itu dan objek penelitian adalah masyarakat Indonesia sendiri.

“Memang ada vaksin dari luar itu diteliti untuk masyarakat luar, karena terkadang karakteristiknya berbeda. Vaksin ini memang berasal dari Cina, tetapi praktisnya sudah diuji klinik di Indonesia khususnya untuk ribuan masyarakat Bandung, Jawa Barat dengan rentang usia 18 hingga 59 tahun,” sebutnya.

Menurutnya, uji klinis dimaksud sudah dilakukan sejak beberapa bulan lalu, bahkan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil juga tampil sebagai relawan ujicoba vaksin Covid-19 dari Sinovac dan tidak ada keluhan.

Namun setelah ujicoba vaksin untuk ribuan masyarakat Bandung, sambungnya, sejauh ini aman-aman saja. Sebab Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) RI juga telah memberikan izin untuk diedarkan.

“Memang keluhan biasa seperti keram, pegal, atau deman itu hal yang wajar dan sifat semua vaksin terkadang begitu. Karena efek dari masuknya bahan kimia lain ke dalam tubuh. Kalau dikatakan ada rasa kekhawatiran masyarakat karena ada kasus, namun itu terjadi di luar negeri dan vaksinnya juga tidak sama dengan yang sudah diedarkan di Indonesia,” tandas Andi.

Dia mencontohkan, di Amerika Serikat, ada orang yang mengalami kejang setelah divaksinasi. Namun vaksinnya berbeda dengan yang ada di Indonesia, yakni vaksin Sinovac dan telah diuji secara klinis. Dan untuk masalah keamanan dan kehalalan, juga sudah diuji sehingga dikatakan tidak ada masalah.

“Kebetulan ini merupakan sesuatu hal yang baru, sehingga membuat sebuah phobia yang berlebihan bagi masyarakat. Tetapi diharapkan agar tidak perlu merasa cemas atau takut yang berlebihan,” pesan dia.

Dijelaskan, bahwa sudah dilakukan uji klinis dan tidak menimbulkan persoalan apa pun sehingga ke depannya masyarakat tidak perlu merasa kecemasan yang berlebihan terhadap vaksin Covid-19. Dan menurutnya, terkait Maluku masuk zona hijau pandemi Covid-19, maka yang namanya status zona itu bisa berubah-ubah.

Tetapi perlu diingat secara persentanse dibandingkan angka nasional, meski pun jumlah kasus di Maluku lebih sedikit karena dilihat dari jumlah populasi penduduk dengan jumlah warga yang terinfeksi. Namun Kondisi itu hanya dipakai untuk gambaran penentuan zona dan bukan untuk penentuan jumlah vaksin yang dibutuhkan.

Kalau untuk penentuan jumlah vaksin ke suatu daerah, lanjut Andi, digunakan asumsi 2/3. Artinya 2/3 dari total populasi penduduk, sehingga jatah untuk semua provinsi seperti itu standarnya. Yakni populasi penduduk Maluku 1,8 juta orang, maka jatahnya adalah 1,2 juta vaksin yang harus didistribusikan ke 11 kabupaten/kota, dengan asumsi penduduk berusia dewasa antara 18-59 tahun. Dan setelah dihitung-hitung, tambah Andi, sesuai penjelasan Ketua Gustu Covid-19 Maluku, bahwa jumlah penduduk rentang usia 18-59 tahun di Maluku hanya 900.000 jiwa.

“Artinya kita di Maluku memiliki kelebihan 300.000 vaksin Covid-19, dan secara otomatis seluruh masyarakat akan kebagian. Belum lagi orang yang sudah pernah terpapar virus corona tidak boleh divaksin, karena mereka yang berhasil sembuh sudah tercipta vaksin alami di dalam tubuhnya,” paparnya. (RHM)

Comment