by

Masyarakat Diminta Waspada Bahaya Pedofil

Ambon, BKA- Masyarakat Kabupaten Buru diminta untuk waspada terhadap bahaya pedofil. Himbauan itu disampaikan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Pelindungan Anak (DP3A) Kabupaten Buru, Oclaila Sulaiman, Sabtu (6/3).

Kasus pedofil telah terjadi di Kota Namlea, pada Januari 2021 lalu. Pelakunya satu orang, namun korbannya beberapa orang anak.

“Waspadai bahaya pedofil di sekitar kita. Jadi ini berangkat dari kasus yang terjadi beberapa waktu lalu, itu membuktikan bahwa sudah ada pedofil di tengah-tengah masyarakat. Kasus pedofilia yang ada ini memang satu orang, tetapi korbannya beberapa. Itu yang ditakutkan. Jadi dengan ini, saya mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama mewaspadai bahaya pedofil di sekitar kita, dengan mengenali ciri-ciri pedofil untuk melindungi anak kita bersama,” kata Sulaiman.

Dia menjelaskan, pedofilia adalah kelainan seksual yang menjadikan anak yang masih di bawah usia 18 tahun sebagai objek seksual. Pelakunya itu disebut pedofil.

Ciri-ciri pedofil, urainya, yakni memaksa untuk memeluk atau mecium, memberikan hadiah tanpa alasan yang jelas, mencari kesempatan untuk berduaan dan menyebut dengan istilah “Loli”.

Sementara dampak terhadap korban, pertama, trauma berkepanjangan, putus sekolah, perilaku seks menyimpang dan kehilangan masa kanak-kanak.

“Pedofil itu teramat dekat dengan anak-anak. Jadi kesannya, mereka (Pedofil) memiliki perhatian khusus dengan tipe penyayang. Sayangnya itu yang terlihat oleh mata kita. Tetapi yang tidak terlihat oleh kita, pedofil biasanya memiliki sifat pemaksa, yakni, membujuk anak-anak tersebut untuk mengikuti kemauan mereka dengan permen, boneka dan apapun yang disukai oleh calon korban. Mereka pada dasarnya tidak langsung melancarkan aksinya, tetapi mengenali terlebih daluhu minat dan ketertarikan anak-anak kita seperti apa. Itu cara mereka untuk melakukan pendekatan kepada korban. Dengan cara itu, mereka bisa memberikan perhatian, hadiah sesuatu yang diinginkan oleh anak-anak kita,” ungkapnya.

Kemudian, pedofil mencari kesempatan khusus untuk berduaan dengan calon korban, sebelum akhirnya melancarkan aksinya.

Untuk itu, para orangtua dan keluarga harus memonitoring atau mengontrol anaknya setiap saat, agar hal-hal yang tidak diinginkan tidak terjadi.

“Anak-anak ini tidak langsung serta merta akan menyampaikan kepada orangtua, apa yang sudah terjadi kepada mereka (korban). Tetapi perbuatan si pedofil membuat ada perubahan sikap pada diri anak. Misalnya, anak-anak itu yang tadinya periang, tiba-tiba berubah menjadi pendiam. Yang paling penting, pada saat buang air kecil maupun besar, ada keluhan sakit. Waspadai itu,” terang Sulaiman.

Untuk menghidarkan anak kejahatan pedofil, jelasnya, pertama, orangtua harus dapat mejadi sahabat anak. Kedua, orangtua mengenal lingkungan anak. Selanjutnya, ajarkan anak untuk melarang orang lain menyentuh bagian bibir, dada, dan alat kelamin, kecuali orang tua. Ajarkan anak agar tidak mudah menerima pemberian apapun dari orang lain, menghindari ciuman dan pelukan selain dari orangtua, serta meminta mereka melaporkan pengganggu pada guru dan orangtua.

“Apabila para orangtua menemukan gejala seperti itu, berarti coba dekati anak dengan bahasa khusus orangtua, untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka. Insya Allah, dengan bahasa orangtua yang lebih dekat, mereka akan bisa lebih berani untuk berterusterang. Karena memang biasanya, pedofil dalam melancarkan aksinya selalu disetai ancaman. Tetapi ancaman itu bisa gugur dengan sendirinya, hanya karena kedekatan dan perhatian orangtua untuk hal-hal yang disebutkan tadi,” paparnya.

Yang tidak kalah penting, kata Sulaiman, saat orangtua menyadari anaknya telah menajdi korban pedofil, jangan langsung panik. Berikan perhatian utama kepada anak atau korban dulu, sembari menghubungi Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Buru, atau Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Pelindungan Anak (DP3A) Kabupaten Buru, atau UPPA Polres atau Polsek setempat, untuk melaporkan kejadian tersebut.

“Ingat tidak boleh melepaskan perhatian dari mereka (korban). Karena perhatian dan kasih sayang dari orangtua yang ditunjukan kepada anak yang pernah atau sedang menjadi korban kekerasan seksual seperti itu, biasanya bisa mengatasi trauma yang terjadi akibat musibah itu. Apabila tidak ditangani, maka dia akan berpotesi menjadi pelaku dikemudian hari,” harapnya.

Menurutnya, rata-rata pelaku pedofil itu merupakan korban pada masa lalu. “Sama seperti kasus yang terjadi di Namlea. Pada saat kami menanyai pelaku, dia langsung menjawab, dulunya pernah menjadi korban serupa pada saat berusia 7 tahun,” bebernya.

Untuk itu, Sulaiman mengingatkan agar tidak boleh menganggap remeh korban dari kasus pedofilia. “Jadi jangan menganggap remeh korban-korban kekerasan seksual. Perhatian itu yang paling utama. Pendekatan dan mengajarkan kepada anak seks edukasi dini, manfaatnya untuk apa, untuk tahu tadi. Untuk bisa mengenali area-area mana yang tidak boleh disentu oleh orang lain, yang tidak boleh dilihat oleh orang lain. Kalau ternyata disentu oleh orang lain, berarti lari dan teriak minta tolong,” pungkasnya.(MSR)

Comment