by

Memahami Perbedaan Dalam Penetapan 1 Ramadhan.

Oleh: Mardin Wali (DirekturKomunitas Cinta Qur’an (KCQ) Maluku)

Ambon, BKA- Alhamdulillah, Allah SWT masih memanjangkan usia kita. Di tengah pandemi Cofid-19 yang belum selesai hingga hari ini, kita masih diberi kesempatan menghirup segarnya udara Ramadhan 1442 H, pada saat banyak diantara ummat Islam yang tidak diberikan kesempatan untuk bertemu dengan Ramadhan tahun ini. Entah meninggal karena Cofid-19, atau karena berbagai penyakit lainnya, atau kecelakaan maupun sebab-sebab lainnya. Boleh jadi diantara yang meninggal itu adalah keluarga dekat kita, teman-teman kita, ataupun tetangga kita. Maka bertemu dengan Ramadhan ini, adalah sebuah nikmat yang harus kita syukuri dengan sebenar-benarnya syukur; secara lisan, hati dan perbuatan (ibadah dan amalshalih).

Selanjutnya, di tulisan ini, saya ingin sedikit menjelaskan tentang perbedaan yang terjadi dalam penentuan 1 Ramadhan dan 1 Syawwal yang membuat terkadang kita bersamaan memulai puasa, tapi terkadang juga berbeda. Umumnya kita mengenal ada dua cara penentuan 1 Ramadhan dan 1 Syawwal, yakni metode hisab dan rukyat. Terkait dengan hal ini, ada beberapa pertanyaan yang perlu diajukan untuk menambah wawasan berfikir kita:

1. Manakah yang lebih utama, menggunakan metode hisab atau rukyat? Kata lebih utama, juga bisa diganti dengan beberapa kata lainnya, tergantung cara pandang: manakah yang lebih tepat, manakah yang lebih sunnah, dan seterusnya.

2. Apakah memang perbedaan memulai puasa itu karena perbedaan metode? Apakah jika kita menggunakan metode yang sama, maka pasti akan sama pula hari pertama puasa kita?

3. Mengapa PP Muhammadiyah bisa membuat ketetapan awal Ramadhan satu bulan sebelumnya, sedangkan Pemerintah melalui Kementeriaan Agama baru bisa menetapkannya di malam Selasa? Kenapa tidak bisa di malam Senin atau malam Ahad?

Berikut ini beberapa penjelasan sederhana terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas.

1. Kita tidak bisa mengatakan secara pasti, bahwa metode rukyat yang lebih utama dari pada metode hisab, begitupun sebaliknya, karena ada beberapa faktor yang mempengaruhinya. Orang yang bersandar kepada teks hadits Nabi S.A.W, tentang cara penentuan awal Ramadhan, akan mengatakan bahwa rukyat yang lebih utama – tanpa bermaksud mengatakan bahwa ini adalah kelompok tekstual. Sedangkan orang yang menginginkan kepastian (sejak awal), juga untuk menyatukan umat Islam dalam satu waktu ibadah yang sama, sehingga menghindarkan diri dari perselisihan, maka akan berpendapat bahwa metode hisab yang lebih utama. Bahwa sampai pernah ada pertemuan ulama atau cendekiawan muslim yang membicarakan tentang pentingnya ada satu kalender bersama umat Islam sedunia.

2. Terkait pertanyaan yang kedua, maka sangat relative, karena dipengaruhi oleh beberapa hal juga. Walau sama-sama menggunakan metode rukyat, tapi awal puasanya bisa berbeda, jika di satu daerah/tempat melihat hilal, sedangkan di tempat lainnya tidak melihat hilal, pada hal masih dalam satu kawasan yang sama. Sebagai contoh: jika umat Islam di Malaysia dan Brunei Darussalam melihat hilal, sedangkan di seluruh wilayah Indonesia tidak terlihat hilal, apakah Indonesia akan ikut kedua negara tersebut, atau menunda satu hari puasa? Padahal Sumatera lebih dekat dengan Malaysia, begitu juga dengan Kalimantan yang lebih dekat dengan Brunei Darussalam, dibandingkan dengan Papua misalnya.

Begitu juga dengan metode hisab. Ada yang mengatakan bahwa ada beragam ‘rumus’ atau semisal itu dalam metode hisab, sehingga walau sama-sama menggunakan metode hisab sekalipun, tidak secara otomatis pasti sama awal puasa. Bahkan ada penggunakan metode hisab yang selisihnya bisa 2-3 hari.

Terkait hal ini, ada pendapat menarik yang dikemukakan oleh seorang ustadz (cendekiawan muslim), bahwa kita di Indonesia bisa memulai puasa dan berlebaran dalam waktu yang bersamaan, tanpa ada perbedaan, jika hanya satu otoritas tunggal yang berwenang menetapkan 1 Ramadhan dan 1 Syawwal dan wajib diikuti oleh seluruh umat Islam Indonesia. Yang terjadi saat ini adalah, masing-masing kelompok memiliki ototritas dan kewenangan sendiri-sendiri dalam menentukan awal Ramadhan dan Syawwal, sehingga terjadi perbedaan waktu yang sangat beragam.

3. Terkait pertanyaan yang ketiga, dengan menggunakan metode hisab, maka penetuan awal bulan hijriyah bisa dilakukan 1 bulan sebelumnya dengan mengamati dan memperhitungkan pergerakan bulan dan matahari. Sedangkan dengan metode rukyat, penentuan awal bulan baru bisa dilakukan 1 hari sebelumnya. Untuk konteksawal Ramadhan kita di tahun ini, boleh jadi orang awam akan bertanya, tapi kenapa di malam Selasa? Bukan malam Ahad atau malam Senin? Jawabannya pada jumlah hari dalam bulan Islam (hijriyah).

Jumlah hari dalam bulan Islam berkisar antara 29 dan 30 hari. Hari senin, 12 April 2021 bertepatan dengan 29 Sya’ban. Karena itu, maka melihat hilal Ramadhan baru bisa dilakukan pada Senin sore itu. Jika hilal terlihat, maka malam Selasa sudah masuk 1 Ramadhan. Jika hilal tidak terlihat, maka hari Selasa terhitung 30 Sya’ban dan 1 Ramadhan pada hari Rabu.
Kenapa melihat hilal tidak bisa dilakukan pada Ahad sore? Karena hari Ahad masih tanggal 28 Sya’ban, maka secara otomatis hari Senin tanggal 29 Sya’ban, hilal pasti belum muncul.

Demikian untuk dipahami, dan semoga bisa menambah wawasan kita.(*)

Comment