by

Memaksakan Diri dalam Kebaikan

Oleh: Fathurrahman, S.Pd.I (Kepala Ma’had Arrahmah Ambon)

Sering kita mendengar ucapan bahwa ibadah harus ikhlas. Tentu itu benar adanya. Ibadah memang tidak diterima, kecuali dilakukan dengan ikhlas.

Sebenarnya apa itu ikhlas? Para ulama menyampaikan makna ikhlas sebagai berikut. Al ‘Izz bin Abdis Salam berkata, “Ikhlas ialah, seorang melaksanakan ketaatan semata-mata karena Allah. Dia tidak berharap pengagungan dan penghormatan manusia, dan tidak pula berharap manfaat dan menolak bahaya”.

Fudhail bin ‘Iyadh berkata; “Meninggalkan amal karena manusia adalah riya’. Dan beramal karena manusia adalah syirik. Dan ikhlas ialah, apabila Allah menyelamatkan kamu dari keduanya”.

Abu Hudzaifah Al Mar’asyi berkata : “Ikhlas ialah, kesesuaian perbuatan seorang hamba antara lahir dan batin”.

Mewujudkan ikhlas itu memang perkara yang rumit. Dikisahkan, ada seorang ‘alim yang selalu datang shalat di shaf paling depan. Suatu saat, ia datang telat dan mendapatkan shalat di shaf kedua dan terbersitlah rasa malu kepada para jama’ah lain. Kondisi dimana ia menyadari bahwa kesenangan sebenarnya adalah ketenangan hati saat shalat di shaf pertama, dan ini juga bermasalah terhadap ikhlas.

Dalam prakteknya, ikhlas bebas dari perasaan suka atau tidak suka. Bahkan banyak hal yang terhitung sebagai ibadah harus dilakukan dengan cara terpaksa. Terpaksa menjalankan perintah Allah SWT, dalam pengertian perlu pengorbanan energi lahir dan batin. Menjalankan ibadah haji tidak akan terwujud jika tidak “dipaksa”. Itulah kira-kira maksud memaksa diri dalam kebaikan. Karena jika tanpa paksaan, maka akan banyak sekali kebaikan dan amal yang luput.

Menjalankan aktivitas Ramadhan pun harus ada paksaan sekecil apapun kadarnya. Jika tidak dipaksa, tentu manusia akan meninggalkan puasa. Karena puasa adalah ibadah yang membutuhkan lebih banyak energi fisik dan mental. Yang terpenting, kondisi terpaksa itu tidak dijadikan sikap dengan menunjukkan dihadapan manusia. Terpaksa menjalankan perintah Allah adalah bagian dari keikhlasan itu sendiri. (*)

Comment