by

Menjadi Sekolah Penggerak Tidak Mudah

Ambon, BKA- Kepala SD Inpres 28 Nania, Stev Salmon, mengaku, untuk menjadi Sekolah Penggerak tidak mudah. Butuh kesiapan maksimal dari sekolah, khusus Kepala Sekolah (Kepsek) selaku pimpinan Satuan Pendidikan (SP).

“Tergantung Kepsek. Kalau Kepsek lulus seleksi, berarti sekolahnya masuk dalam kategori Sekolah Penggerak. Nah sulit atau tidak, kita harus ikut karena diwajibkan semua Kepsek ikut, maka wajib kita ikut,” ucap Salmon, Selasa (16/2).

Berdasarkan hasil sosialiasi, ungkapnya, nantinya akan ada berbagai tahapan seleksi menuju Sekolah Penggerak, yang semuanya hanya melibatkan Kepsek.

Jika pada seleksi tersebut, tambahnya, Kepsek tidak lulus, maka otomatis sekolah yang dipimpinnya pun tidak lulus

“Karena yang menjadi Sekolah Penggerak adalah sekolah yang Kepsek-nya mampu menjadi contoh bagi semua elemen sekolah, sebagai penggerak utama kemajuan mutu pendidikan. Bahwa setelah lulus seleksi, tentu sudah punya kompetensi. Dengan gudang ilmu kemampuan yang dimiliki, Kepsek harus bisa menggairahkan guru, orangtua dan stakeholder, untuk menggerakkan sekolah menjadi berkembang dan berkualitas,” jelasnya.

Apapun prosesnya, kata Salmon, dia tetap siap mengikuti seleksi Sekolah Penggerak, demi kemajuan kualitas pendidikan pada sekolah yang dipimpinnya.

Untuk itu, dia tengah berproses untuk mendaftarkan diri mengikuti seleksi tersebut secara online. “Pendaftaran sudah dibuka hingga tanggal 6 Maret. Jadi yang penting kita daftar dulu. Selanjutnya kita ikut saja sesuai alurnya. Namun perlu juga ada kesiapan, karena kalau tidak lulus pada tahap I, maka tidak bisa lanjut untuk tahap berikutnya. Satahu saya, memang semua sekolah harus ikut. Tapi untuk tahap I ini, hanya beberapa sekolah saja. Misalnya di Maluku, hanya 3 kabupaten kota, yakni, Kota Ambon, Maluku Tengah dan Kota Tual. 3 kabupaten kota ini akan merebut 13 kuota Sekolah Penggerak di Maluku. Jadi memang kita juga harus siap, karena persaingan pasti ketat,” pungkas Salmon. (LAM)

Comment