by

Minta Polisi Tetapkan Tersangka Kasus Pencemaran Nama Baik

beritakotaambon.com – Kasus dugaan tindak pidana pencemaran nama baik dan ancaman kekerasan yang dilakukan tiga terlapor masing-masing, SR (30), KH (33) dan SYH (27), diminta segera tetapkan tersangka oleh penyidik Polres Kabupaten Kepulauan Tanimbar (KKT).

Bob Kudmasa, salah satu anak dari pelapor atau korban mengatakan, kasus dugaan tindak pidana pencemaran nama baik dan ancaman kekerasan ini dialami ayahnya sendiri O.A Kudmasa,selaku mantan kades Makitan, Kecamatan Wermaktian,Kabupaten KKT.

“Laporan kasus ini dilaporkan sejak 15 Februari 2021 lalu, namun sampai kini belum ada tersangka lagi dalam kasus ini, kita desak agar polisi segera tetapkan tersangka,” ujar Bob, kepada media ini, melalui selulernya, Selasa (7/9).

Baca juga: Tangkap DPO Taman Kota Saumlaki, Lira Apresiasi Kinerja Kajati Maluku

Di satu sisi, pihanya mengapresiasi kepolisian dalam menangani laporan ini. Nyatanya, sejak laporan ini dimasukan ke Polres KKT, penyidik sudah memeriksa sejumlah saksi terkait, termasuk terlapor dan pelapor.

“Saya atas nama keluarga, mendukung penuh kepolisian untuk menuntaskan kasus dugaan kuat pencemaran nama baik dan ancaman kekerasan yang dilakukan oleh para pelaku kepada bapak saya, agar tercipta suatu keadilan hukum di masyarakat, terlebih kepada keluarga atas perbuatan para terlapor,” tegas Bob.

Untuk itu, kata dia, Polres KKT pasti bersikap profesional dalam menuntaskan kasus ini. Sebab, hal ini kalau tidak ada kepastian hukum,maka tentu menjadi wacana buruk bagi masyarakat setempat.

“Kami harap dalam waktu dekat pihak Polisi sudah menetapkan tersangka, agar semua yang terlibat dalam kasus ini dapat diproses sesuai hukum yang berlaku,” Ungkapnya.

Sebelumnya, kasus dugaan tindak pidana pencemaran nama baik dan ancaman kekerasan kepada pelapor, berdasarkan Surat Perintah Penyilidikan Nomor: Sp Lidik//100/VIII/2021/Satreskrim, tanggal 02 Agustus 2021(dalam hal ini adalah Pengaduan/Laporan ke dua) yang diduga dilakukan oleh para terlapor melalui akun media sosial Facebook, Grup WhatsApp maupun rapat yang termuat dalam rekaman video, dilaporkan pelapor sejak15 Februari 2021 dan laporan kedua pada 26 Juli 2021 lalu. (SAD)

Comment