by

Minta Polisi Tuntaskan Laporan Penggelapan Sertifikat

Ambon, BKA- Kasus dugaan tindak pidana penggelapan sertipikat milik Yohanis Laturake di lahan yang terletak di seputaran depan PLN Piru, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), minta untuk diusut tuntas Polres SBB.

Pasalnya, sampai saat ini, Polres SBB,belum juga memanggil para terlapor, Tomas Laturake, Steven Laturake dan Ato Laturake (Anggota TNI), yang diduga adalah aktor dibalik penggelapan sertifikat nomor 438 dengan luas 897 meter persegi itu.

Kuasa hukum Yohanis Laturake, Ferry Ch. Latupeirissa kepada koran ini mengatakan, Satreskrim Polres SBB diminta agar segera memanggil para terlapor untuk diperiksa. Dan kalau bisa, jadikan mereka sebagai tersangka langsung dalam perkara ini.
“Mengapa harus mereka itu segera dipanggil dan dijadikan mereka sebagai tersangka, karena sertipikat milik klien saya itu mereka ambil. Hal ini sesuai pengakuan terlapor Tomas Laturake dan Ato Laturake sendiri saat awal kita mediasi,” ungkap Ferry, ketika mendatangi redaksi Harian Beritakota Ambon, Senin lalu.

Pengacara muda ini mengatakan, sertipikat milik kliennya berpindah ke tangan para terlapor, karena waktu itu, anak dari Yohanis Laturake menjadi pelaku penganiayaan. Saat itu, pihak korban melakukan proses hukum dan meminta agar pihak pelaku menanggung biaya korban.
“Karena saat itu klien saya tidak ada uang, mereka ingin untuk gadai sertifikat rumah. Saat itu terlapor Steven Laturake mengambil sertipikat klien saya tujuannya untuk gadai
mencari biaya untuk keperluan yang diminta pihak korban. Nyatanya mereka tidak gadai sertipikat ke orang, tapi para terlapor sendiri yang sepakat untuk menyimpan sertipikat itu kemudian tidak kembalikan ke Yohanis Laturake sampai saat ini,” jelasnya.

Ferry melanjutkan, karena tidak pulangkan sertipikat kliennya, Yohanis Laturake kemudian memilih jalur hukum dengan melaporkan para terlapor dengan kasus tindak pidana penggelapan sertipikat milik orang lain. Sebagaimana diatur dalam pasal 372 KUHPidana.

“Jadi karena sertipikat belum dikembalikan, kami langsung melaporkan mereka ke Polres SBB. Harapan saya, semoga Satreskrim Polres SBB secepatnya menuntaskan kasus ini. Karena ada indikasi kuat, salah satu terlapor merupakan oknum TNI jadi mereka mencoba main dalam perkara ini, membuat polisi lama-lama menuntaskan kasus ini,” tandasnya.

Para terlapor juga, tambah dia, sedang memasukan gugatan perdata terkait pembagian ahli waris di Pengadilan Dataran Honipopu.
“Bagi saya, silakan saja mereka gugat, tapi bagi kami itu, pulangkan dulu sertipikat milik klien saya. Karena nama dalam sertipikat itu Nama klien saya bukan keluarga Laturake. Jadi sebaiknya para terlapor kembalikan sertipikat klien saya. Karena itu yang menjadi dasar laporan pidana kami di Polres SBB,” pungkasnya.

Terpisah, Kasat Reskrim Polres SBB, AKP Pieter F. Matahelumual yang dikonfirmasi membenarkan adanya laporan kasus penggelapan tersebut.
Menurutnya, dalam proses pengusutan kasus ini, sudah naik tahap penyidikan. Hanya saja, pihak terlapor belum diperiksa.

Sedangkan untuk oknum TNI tersebut, kata dia, Polres SBB akan berkoodinasi dengan POM. “Kita belum tahu oknum TNI ini tugasnya dimana. Dan akan kita koordinasi denga POM setempat untuk proses selanjutnya. Sedangkan untuk terlapor lainnya, sampai kini polisi tinggal periksa mereka saja,” tandasnya.(SAD)

Comment