by

Modus Korupsi Mark-Up ADD Porto Terungkap

Ambon, BKA- Empat saksi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Cabang Kejaksaan Negeri (Cabjari) Ambon di Saparua, mengungkap modus dugaan korupsi mark-up DD dan ADD yang dilakukan Raja Negeri Porto, Marten Namlohy, pada persidangan yang digelar di Pengadilan Tipikor Ambon, rabu (4/11).

Keempat saksi itu, yakni, Izak Pattilouw selaku ketua panitia persidangan jemaat, Kristian Latuperisa selaku pekerja Posyandu, Herli Latumahina sebagai kepala tukang proyek pipa air bersih, serta saksi Aleksander Latuihamalo sebagai kepala tukang.

Didalam keterangannya, saksi Izak Patilouw, mengungkapkan, pekerjaan pembangunan jalan setapak sepanjang 200 meter yang dikerjakan oleh sektor dari jemaat pada 2017 lalu, dengan upah Rp 18 juta. Sedangkan untuk pembangunan gedung TK tahun 2016 nilainya sebesar Rp 27 juta.

Saksi mengaku, kalau proyek tersebut tuntas dikerjakan. Hanya saja untuk proses pembayaran, saksi yang selaku ketua panitia persidangan jemaat disodorkan kwitansi kosong di ruang bendahara, dengan jumlah uang sebesar Rp 18 juta untuk upah biaya pekerja jalan setapak.

“Jadi waktu itu memang upah kita sebesar Rp 18 juta. Tapi waktu saya dihadapan penyidik, saya lihat di bukti kwitansi, kalau biaya pekerjaan jalan setapak itu nilainya Rp 31 juta,” jelas saksi Izak, ketika dicecar Ketua Majelis Hakim, Jeny Tulak.

Sedangkan untuk biaya pembangunan TK, saksi juga mengaku menerima kwintasi kosong. “Jadi pembangunan TK dengan nilai Rp 27 juta, kita juga terima kwintasi kosong,” beber dia.

Hal yang sama juga disampaikan saksi Kristian Latuperisa. Menurutnya, dirinya bersama tiga orang pekerja mengerjakan Posyandu di Negeri Porto, selama tiga minggu. Total biaya kerja untuk para tukang sebesar Rp 15 juta.

“Saat itu saya ke ruangan bendahara, Salmon Noya, untuk mengambil uangnya. Tapi kwitansi tidak ada,” jelas dia.

Sementara itu, untuk saksi Herli Latumahina sebagai kepala tukang pembuatan pipa air bersih, di hadapan persidangan mengatakan, dirinya yang mengerjakan proyek tersebut karena dihubungi Sekertaris Negeri Porto.

Setelah tuntas mengerjakan proyek tersebut, dirinya mendapat upah sebesar Rp 900 ribu. “Saya dapat upah sebesar Rp 900 ribu. Kalau untuk karyawan lain, saya sudah tidak tahu, karena tidak ada bukti kwintasi,” jelasnya.

Sedangkan untuk saksi Aleksander Latuhamalo, mengatakan, semua proyek lumbung pangan dan proyek air bersih, semuanya sudah tuntas. Saat ini masyarakat telah memanfaatkan proyek-proyek itu.

Namun untuk material semen 80 sak, tiga ret batu, tiga ret pasir, dibantah Raja Porto atau terdakwa. Menurut terdakwa, proyek-proyek beberapa item pekerjaan itu menggunakan semen lebih dari 100 sak, sedangkan pasir dan batu pun lebih dari tiga ret.

Setelah mendengar keterangan saksi-saksi, hakim menunda sidang hingga 11 November nanti, dengan agenda yang sama, yakni, pemeriksaan saksi-saksi.

Sebelumnya, dalam dakwaan JPU menyebutkan, Raja Porto melakukan perbuatan melawan hukum dengan melakukan pengelolaan keuangan Negeri Porto Tahun 2015-2017 secara tidak benar dan akuntabel, dengan manipulasi volume bahan maupun harga bahan. Sehingga antara nilai harga ril yang dialokasikan secara nyata di lapangan, tidak sama dalam laporan pertanggungjawaban.

Nanlohy telah memperkaya diri sendiri bersama bendahara dan sekertaris. Perbuatan mereka itu merugikan negara Rp 328.748.277.

Untuk diketahui, pada tahun 2015, 2016 dan 2017, Pemerintah Negeri Porto mendapat DD dan ADD sebesar Rp 2 miliar. Anggaran tersebut diperuntukan bagi pembangunan sejumlah item proyek, diantaranya, pembangunan jalan setapak, pembangunan jembatan penghubung dan proyek Posyandu.

Modus yang dilakukan terdakwa bersama sekertaris dan bendahara, melakukan mark-up dalam setiap pembelanjaan item proyek. Sehingga harga volume naik dari harga aslinya.

“Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam dengan pasal 2 ayat (1) atau pasal 3, jo pasal 18 UU Nomor 31 tahun 1999, jo UU Nomor 20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi, jo pasal 55 ayat (1) KUHP,” ungkap JPU dalam berkas dakwaannya.(SAD).

Comment