by

Moniharapon Lemah Setelah Divaksin

Ambon, BKA- Marie Moniharapon, lansia 81 Tahun di Desa Hunuth, Kecamatan Teluk Ambon, Kota Ambon, terbaring lemah sertelah disuktin vaksin Covid-19, 13 Maret lalu.

“Malam setelah ibu kami divaksin pada siang hari, ia mengalami demam tinggi serta merasa lemas pada tubuhnya. Kami berupaya untuk berikan obat, serta menghubungi dokter yang bertugas memberi vaksin. Kondisinya membaik. Tapi hanya sementara, setelah itu sakit lagi. Justru semakin parah, sampai menyebabkan kelumpuhan,” kata Lordy Tahalea, anak korban, Rabu (17/3).

Melihat kondisi orangtua mereka semakin parah, pihak keluarga kembali menghubungi dokter yang bertugas memberikan vaksin bagi warga lanjut usia di Desa Hunuth, Untuk memeriksa kembali keadaan korban.

“Setelah kami hubungi, dokternya datang melakukan pemeriksaan. Kemudian disuruh rujuk ke Rumah Sakit dr. Laimena, karena kondisi yang semakin parah. Namun awalnya, kami masih berpikir juga apakah bisa bawa ke Rumah Sakit pakai jaminan kesehatan (BPJS) atau tidak? Karena kami juga dari keluarga yang kurang mampu. Kami sempat bertanya kepada dokter, beliau menjawabnya, bisa,” kata Lordy.

Namun diluar perkiraan, sesampainya dirumah sakit, Minggu (14/3), kartu BPJS milik korban tidak dapat digunakan, karena sudah dinonaktifkan oleh pemerintah. Akibaynya, pihak keluarga harus menanggung biaya selama berada di ruang IGD sebesar Rp 679 ribu.

“Karena di IGD tidak bisa terlalu lama, kami kembali menghubungi dokter yang menyuruh kami rujuk ke rumah sakit. Saat itu, kami diberi dua opsi. Yang pertama, tetap di rumah sakit dengan biyaya dibebankan ke kami. Kedua, dibawa ke Puskesmas Hutumury, tidak ada biyaya pengobatan,” terangnya.

Dengan kondisi keuangan yang terbatas, keluarga korban memilih untuk membawa pasien ke Puskesmas Hutumuri. Mereka sempat meminta fasilitas ambulance dari pihak rumah sakit, namun karena biayanya sangat mahal Rp 800 ribu, membuat keluarga korban memilih untuk membawa pasien menggunakan angkutan umum.

“Kami sempat meminta fasilitas ambulance dari pihak rumah sakit. Namun biaya yang mereka kasih itu sebesar Rp 800 ribu, dengan alasan lokasinya di luar jangkauan. Akhirnya kami memilih untuk membawa orangtua kami dengan menggunakan mobil angkot. Kami juga sempat mengatakan akan melakukan protes. Melihat hal itu, mereka kembali menguhubungi kami dengan mengatakan salah membuat rincian. Harga Ambulance sebenarnya Rp 152 ribu,” ungkapnya.

Setelah sehari dirawat di Puskesmas Hutumuri, pihak keluarga kembali dihubungi untuk merujuk pasien kembali ke Rumah Sakit D.r Laimena, karena kondisi pasien yang sudah parah, untuk ditangani oleh dokter ahli yang ada di rumah sakit tersebut.

Mendengar hal itu, keluarga pasien dengan terpaksa menyetujui hal agar ibu mereka dibawa kembali ke Rumah Sakit D.r Laimena. Dengan harapan, ada kompensasi dari pihak rumah sakit, serta peran pemerintah dalam memberikan fasilitas bagi pasien dampak vaksin.

“Sebenarnya pemerintah juga harus melihat hal ini, sebelum dilakukan vaksin. Segala kesiapan untuk dampak dari vaksin ini sudah harus dilakukan. Masa untuk pasien karantina, ada jaminan segalanya. Tapi untuk dampak vaksin tidak ada jaminan apa-apa? Paling tidak fasilitasilah,” pungkas Lordy.(BTA).

Comment