by

Murad Dukung Transportasi WIG Craft di Maluku

Gubernur Maluku Murad Ismail, mendukung penuh rencana pengoperasian transpotasi Wing In Ground (WIG) Craft atau pesawat laut oleh investor Australia, Tasageoby Group. Dukungan itu disampaikan saat menerima CEO Tasageoby Group, Stuart Janes dan rombongan di kediamannya, akhir pekan kemarin.

Dalam pertemuan Chief Executive Officer atau CEO Tasageoby Group, Stuart Janes mengatakan, transportasi yang akan dikembangkan di Maluku, melalui WIG Craft yang diproduksi Perusahaan ARON di Korea Selatan (Korsel).

“ini adalah kapal multimodal yang dalam mode operasional utamanya dapat terbang melalui efek bantalan udara, yang bekerja pada sayap di atas permukaan air. Tanpa kontak konstan dengan permukaan dan didukung di udara, terutama oleh daya angkat aerodinamis yang dihasilkan pada sayap atau lambungnya,” terang Stuart.

Dijelaskan, WIG Craft dalam segi biaya operasional juga terbilang lebih murah jika dibandingkan pesawat komersial biasa. WIG Craft juga memiliki kelebihan, selain jarak yang relatif pendek, kapal WIG dapat mendarat di sejumlah titik di laut wilayah setempat, yang hanya mengandalkan pendaratan floating dock yang tidak terpengaruh dengan kondisi pasang atau surut air.

Sebagai langkah awal, kata dia, di tahun 2022 sudah mulai mengembangkan pilot project pembangunan 3 WIG Ports. Dengan fasilitas masing-masing satu di Ambon, Banda dan Masohi. Kemudian diikuti 2 port lagi yaitu Sawai dan Namlea. Serta diharapkan bisa untuk mengoperasikan pesawat WIG pada tahun 2023,” sebutnya.

Terhadap rencana itu, Murad mengatakan, kedatangan investor asal Australia di Maluku ini hadir pada saat yang tepat. Karena sebagai provinsi kepulauan, sangat membutuhkan teknologi transportasi yang akan dibawa oleh Tasageoby Group ke Maluku.

“Kami memiliki sembilan kabupaten dan dua kota. Dari satu kabupaten ke kabupaten lain, lewat jalur darat bisa memakan waktu 6 sampai 7 jam. Kalau naik pesawat 1 sampai 2 jam. Jika kita pergi ke Maluku Tengah dengan kapal ferry selama 2 jam. Dari Maluku Tengah ke Seram Barat saja, kalau lewat darat bisa memakan waktu 6 hingga 7 jam. Jadi kalau Tasageoby Group mengoperasikan WIG Craft di sini, akan sangat membantu,” ucapnya.

Mantan Dankakor Brimob ini juga mencontohkan saat dirinya berkunjung ke Seram Bagian Barat (SBB). Dimana dari satu kecamatan ke kecamatan lain, bisa memakan waktu lima hingga 7 jam. Alhasil, lebih memilih pulang lewat laut daripada jalur darat.

“Sebagai daerah kepulauan, seperti Provinsi Maluku yang memiliki luas wilayah 712.480 km, terdiri dari sekitar 92,4 persen laut dan 7,6 persen daratan, ini tentunya sangat membutuhkan alat transportasi laut seperti kapal WIG ini,” tutup Murad. (RHM)

Comment