by

Nahkoda KM Anugerah Berkat 1 Terancam Dibui

Ambon, BKA- Perbuatan tidak manusiawi kembali dipertontonkan salah satu nahkoda kapal nelayan di Kepulauan Aru. Kie Hut alias Acong, nakhoda KM Anugerah Berkat 1, diduga lalai jalankan tugas dan tanggung jawabnya, hingga mengakibatkan meninggalnya Anak Buah Kapal (ABK), Antonius Heriawan (53).

Informasi yang diperoleh BeritaKota Ambon, Senin (19/4) di Reskrim Polres Kepulauan Aru, Antonius Heriawan merupakan pria kelahiran Medan 01 Agustus 1968, alamat jalan Mayjen Haryono, Desa Jati, Kecamatan Mayangan, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, itu diduga meninggal lantaran tidak mendapat perawatan secara intensif saat sakit di atas KM Anugerah Berkat 1.
Kasat Reskrim Polres Kepulauan Aru, Iptu Galuh F Saputra ketika di konfirmasi membenarkan, bahwa pihaknya tengah menangani kasus meninggalnya salah satu ABK KM Anugerah Berkat 1.

“Iya kami (Reskrim) memang sementara tangani kasus meninggalnya ABK KM Anugerah Berkat 1. Dan apa motif meninggalnya korban (Antonius Heriawan) kami masih mendalaminya,”beber Kasat.
Diakuinya, Unit Idik III Tipidter Satreskrim Polres Kepulauan Aru bergerak cepat dengan melakukan interview terhadap kasus tersebut, berdasarkan Laporan Polisi (LP) nomor : LP/67/IV/2021/MALUKU/RES ARU, tanggal 18 April 2021 serta Surat Perintah Penyelidikan Nomor: SP. Lidik/86/IV/2021/Reskrim, tanggal 04 April 2021.

“Jadi langkah utama yang kami telah lakukan, yakni melakukan penyelidikan pulbaket terhadap pihak terkait. Seperti nakhoda dan satu orang ABK Muhammad Rafi alias Rafi,” terangnya.

Selain melakukan penyelidikan terhadap nahkoda dan ABK, sambung dia, pihaknya juga sementara melakukan pemeriksaan terhadap keabsaan dokumen kapal. Dan jika memang dalam penyelidikan kedapatan perbuatan melawan hukum, maka akan ditindak sesuai undang-undang yang berlaku.

“Selain nahkoda dan ABK diperiksa, dokumen kapal juga kita periksa. Dan kalau kedapatan perbuatan melawan hukum, maka kita akan naikan status ke peyidikan sesuai koridor hukum,”tegasnya.

Kuasa Hukum, Antonius Heriawan (almarhum), Yohanis Romodi Ngurmetan saat dikonfirmasi terpisah mengatakan, awal diketahui kliennya meninggal pada 31 Maret 2021, saat isteri kliennya menghubungi anak nahkoda kapal, tempat suaminya bekerja untuk meminta upah (gaji) suaminya. Namun anak nahkoda kapal mengatakan bahwa suaminya tidak menerima gaji lagi, karena suaminya sementara sakit diatas kapal dan tidak bekerja lagi.

“Jadi ketika isteri klien saya mendapat kabar itu, dia langsung kaget dan menanyakan kepada anak nahkoda kapal, bahwa kenapa tidak diberitahukan kepada dia sebagai isteri almarhum dari awal,” sebut Ngurmetan

Menurutnya, sesuai penjelasan anak nahkoda KM Anugerah Berkat 1, pihaknya sebagai kuasa hukum almarhum menganalisa bahwa klienya sudah jatuh sakit sebelum tanggal 31 Maret 2021. Namun pihak kapal diduga sengaja tidak menginformasikan tentang kondisi kesehatan kliennya lebih awal.
“Kami analisa, klien kami ini sudah sakit semelum tanggal 31, namun pihak kapal tidak menginformasikan itu kepada keluarga klien kami. Nah, disini dugaan kami ada yang tidak beres,”ungkapnya.

Ia memaparkan, tepat tanggal 14 April 2021, keluarga kliennya mendapat informasi dari status whatsApp anak nahkoda kapal, bahwa kliennya sudah meninggal. Mendapatkan informasi duka itu, isteri kliennya langsung menghubungi anak nahkoda kapal untuk menanyakan suaminya jatuh sakit sejak kapan. Dan penjelasan dari anak nahkoda bahwa sesuai informasi yang di dapat dari bapaknya, bahwa klienya sudah meninggal sekira bulan Maret 2021.

“Jadi kalau kita menganalisa sesuai keterangan anak nahkoda kapal yang disampaikan bapaknya, maka kuat dugaan bahwa klien kami ini sudah meninggal pada bulan Maret itu. Hanya pihak kapal menutupinya. Dan ini jelas tidak manusiawi,” kesalnya.

Untuk itu, tambah Ngurmetan, kuat dugaan klienya meninggal sebelum tanggal 31 Maret 2021 lantaran sakit. Fatalnya kliennya sempat meminta kepada nahkoda agar diantar ke kota Dobo untuk mendapat penanganan medis. Namun permintaan kliennya tersebut tidak digubris nahkoda. Alhasil kliennya sakit sampai meninggal.

“Saya mau bilang bahwa delik pidanya dapat dalam kasus ini. Ya kalau sesuai Pasal 359 KUHP yang mengatakan, barang siapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan orang lain mati, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana kurungan paling lama satu tahun,” ucap Ngurmetan

Ia berharap, penyidik Polres Kepulauan Aru dalam menangani kasus kliennya ini tidak berlarut larut. Sebab kapal tersebut akan beroperasi, sehingga yang dikuatirkan pihaknya adalah kapal akan keluar beroperasi tanpa ada kejelasan kasus tersebut.

“Harapan kami ya penyidik harus cepat tingkatkan kasusnya. Jangan berlarut larut karena takutnya mereka keluar beroprasi tanpa ada kejelasan. Kami juga harap penerapan hukum harus sesuai mekanisme dan amanat undang-undang,” pintanya.

Sekedar tahu, Rabu 14 April 2021 sekitar pukul 16. 30 WIT, posisi KM Anugerah Berkat 1 sementara berada di Fhising Ground (areal tangkapan) dengan titik koordinat 07.37.898 Lintang Selatan, 137.03.958 Bujur Timur, Laut Arafura Kabupaten Kepulauan Aru.
Semua awak kapal mulai bekerja untuk bongkar ikan (memindahkan hasil tangkapan ikan dari KM Anugerah Berkat 1 ke Kapal Penampung KM Maju Bersama Internasional), sedangkan korban tidak ikut bekerja dan meminta ijin kepada nahkoda kapal untuk beristirahat di dalam kamar ABK, dengan alasan capek.

Selanjutnya, sekitar pukul 22. 20 WIT semua awak kapal istirahat sejenak. Dan pada saat itu ABK Muhammad Rafi alias Rafi masuk kedalam kamar ABK untuk mengambil rokok. Saat itu, yang berada dalam kamar hanya korban sendiri sementara istirahat dengan posisi berbaring /terlentang.

Kemudian Muhammad rafi memanggi korban sebanyak 3 (tiga) kali tetapi korban tidak menjawab. Setelah Muhammad Rafi keluar dari kamar ABK dan memberitahukan hal tersebut kepada nahkoda dan awak kapal yang lain untuk mengangkat korban kedepan kapal yaitu dibagian atas Palka nomor 5, dan setelah diperiksa ternyata korban sudah meninggal dunia.

Jenazah almarhum sementara berada di ruang mayat RSUD Cenderawasih Dobo, dan direncakan akan dipulangkan pada 21 April 2021 menggunakan penerbangan Wings Air. (WAL)

Comment