by

Noach Disematkan Mahkota, Saleky Sebut Itu Pelecehan Adat

Ambon, BKA- Penyematan mahkota kerajaan kepada calon Bupati Maluku Barat Daya (MBD), Benyamin Thomas Noach, saat melakukan kampanye di Desa Mahleta, Kecamatan Mdona Hyera, Senin (2/11), menuai kontroversi.

Ada sebagian masyarakat yang menilai, kalau hal itu hanya asal-asalan. Bahkan salah satu tokoh adat Luwang-Sermatang, Dolf Saleky, menuding itu sebagai pelecehan tatanan adat setempat. Sebab mahkota merupakan simbol kebesaran yang hanya pantas dikenakan oleh pemangku-pemangku adat yang tergolong dalam keturunan raja.

Saleky mengatakan, pemakaian mahkota kerajaan kepada Noach, tidak pantas. Sebab mahkota hanya digunakan oleh raja-raja besar dalam kegiatan adat. Sementara calon bupati itu hadir di Desa Mahleta dalam rangka agenda politik. Bukan kegiatan adat.

“Yang terjadi dalam penyambutan seorang calon bupati di Desa Mahleta, sangat melecehkan martabat adat istiadat Luwang-Sermatang. Dan selaku tokoh adat, saya merasa kecewa atas tindakan tersebut,” ujarnya.

Memberikan dukungan politik, tentu merupakan hak setiap warga negara. Sehingga masyarakat bebas untuk menentukan pilihannya. Namun eforia dukungan itu jangan lantas melecehkan tatanan adat yang telah dibentuk oleh leluhur.

“Kapasitan seorang Benyamin Noach ke Desa Mahleta adalah sebagai calon bupati. Tentu ini ada dalam agenda politik. Sehingga tidak pantas, jika dikenakan mahkota kerajaan kepadanya. Jika memang harus dikenakan, terkecuali dirinya datang dalam kapasitas adat atau dalam pelaksanaan adat. Apalagi dirinya tidak berasal dari sejumlah mata ruma raja yang berasal dari Kecamatan Luwang-Sermatang,” jelas Saleky.

Kekecawaan itu tidak hanya diarahkan kepada masyarakat Desa Mahleta, tapi juga diarahkan Saleky kepada Ketua DPRD Kabupaten MBD, AZ Tunay, yang merupakan anak daerah Luwang Sermatang.

Menurutnya, seharusnya AZ Tunay sebagai kader salah satu partai politik pengusung pasangan Benyamin Noach -Agustinus Kilikily, dapat mencegah terjadinya pelecehan terhadap adat Asyarajat Luwang-Sermatang, hanya demi kepentingan politik.

“Masyarakat harusnya lebih tegas dalam menjaga kesakralan adat istiadat sebagai landasan hidup, yang selama ini telah dijaga dengan baik di kecamatan Luwang-Sermatang khususnya, dan Kabupaten MBD pada umumnya. Dimana perhelatan politik seperti ini, hanya bersifat sementara. Tetapi tatanan adat bersifat kekal bagi seluruh masyarakat,” pungkas Saleky.

Comment