by

Noija: Klien Saya Membela Diri

Ambon, BKA- Amos Batuwael berlari keluar dari Wisma Gonzalo dengan sebilah parang, setelah diteriaki maling oleh warga.

Marten Noya alias Ateng (58) dan Fulton Ronson Saptenno alias Toton (45), melihat terdakwa dan bermaksud menghampiri Amos.

Namun Amos yang telah diteriaki maling oleh warga, langsung menyerang Marten menggunakan parang yang ada di lengan kanannya.

Fulton yang melihat aksi tersebut, langsung memukul lengan kanan Amos sehingga parang yang dipegang Amos terlepas.

Setelah itu Amos dibawah menuju rumah RT setempat. Namun ditengah jalan, dilihat oleh tiga warga Kopertis lainnya, sehingga terjadilah penganiayaan terhadap Amos.

Tiba di rumah RT, tubuh Amos sudah lemah. Kemudian dia tersengkur tak berdaya. Dia langsung dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis. Namun dia dinyatakan telah meninggal dunia.

Kronologis peristiwa yang terjadi di kawasan Kopertis, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, pada 8 Juli 2020 lalu, sekitar pukul 12.30 WIT, itu diungkap oleh Fileo Pistos Noija, yang merupakan penasehat hukum Marten Noya alias Ateng dan Fulton Ronson Sapteno alias Toton.

Karena pasca kejadian itu, polisi menetapkan lima tersangka pembunuhan terhadap Amos (almarhum), yakni, Marten Noya alias Ateng (58), Fulton Ronson Saptenno alias Toton (45), Reinaldo Wendy Siahaya alias Ongen (43),Ronny Papilaya alias Iron (35) dan James Bernand Saptenno alias Ames (53). Dan telah disidangkan di Pengadilan Negeri Ambon.

Dari kronologi tersebut, Noija mengatakan, kedua kliennya sama sekali tidak merencanakan penganiayaan terhadap korban. Mereka hanya membela diri.

“Jadi korban yang serang kedua klien saya itu lebih dulu. Pada saat potong terdakwa Marten dengan parang, dilihat terdakwa Fulton. Fulton datang langsung memukul tangan korban dibagian kanan yang sedang memegang parang, sehingga praang tersebut terjatuh,” ungkap Noija, saat ditemui di Pengadilan Negeri Ambon, Jumat (15/1).

Sebenarnya, tambahnya, tindak pidana itu tidak pernah terjadi. Namun karena korban menyerang lebih dulu, maka aksi berdarah ini pun tak terhindarkan. “Jadi semua ini karena klien saya itu membela diri,” jelasnya.

Selain itu, Noija pun menyesalkan pihak penyidik Polsek Sirimau yang tidak melakukan olah TKP. Padahal sesuai KUHPidana, olah TKP itu harus dilakukan, untuk mencari tahu apa yang terjadi.

“Kenapa harus olah TKP, karena disitu kita bicara tentang lokus dan tempus, atau tempat dan waktu kejadian. Itu berarti, polisi berkewajiban untuk melakukan olah TKP. Karena tidak olah TKP, persidangan ini menjadi kabur. Apalagi saat ini persidangan sudah selesai pemeriksaan kelima terdakwa,” jelasnya.

Dia menambahkan, sebetulnya, kedua terdakwa didakwa dengan UU pembelaan darurat sesuai pasal 49 KUPHPidana. “Intinya disitu. Jadi sekali lagi, menurut saya itu, seharusnya kedua klien saya itu dikenakan pasal pembelaan darurat,” pungkasnya.

Untuk diketahui, oleh JPU, kelima terdakwa didakwa melakukan tindak pidana penganiayaan bersama-sama.

JPU dalam berkas dakwaannya menguraikan, tindak pidana yang dilakukan para terdakwa terhadap korban Amos Batuwael terjadi pada Rabu 8 Juli 2020, sekitar pukul 12.30 WIT, tepatnya di Wisma Gonzalo, Kopertis, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon.

Kejadian bermula ketika terdakwa 1 dan terdakwa 2 sementara bekerja dan mendengar ada teriakan untuk menangkap pencuri.

Saat bertemu dengan korban, mereka langsung menganiaya korban dengan parang. Terdakwa yang lainnya lalu datang, juga dengan memukul korban menggunakan kepalan tangan.

Setelah itu mereka melaporkan kepada RT setempat, bahwa telah menangkap pencuri. Sayangnya korban kembali dipukul berulang kali ketika sudah di rumah RT. Setelah dipukul, korban langsung ditinggalkan begitu saja.

Setelah mendengar hal ini, Bhabinkamtibmas datang menghubungi anggota Polsek Sirimau untuk datang dan membawa korban ke rumah sakit, guna mendapatkan pertolongan medis. Setelah itu, pada Kamis 9 Juli 2020, korban dinyatakan meninggal dunia oleh pihak Rumah Sakit Bhayangkara.

Dari hasil autopsi ditemukan, korban yang sudah berumur kurang lebih 37 tahun ini mengalami luka robek di puncak kepala sebelah kiri akibat kekerasan tumpul, memar sekujur tubuh.

Oleh JPU, kelima terdakwa juga didakwa melanggar pasal 170 ayat 2 ke 3 KUHP pidana.(SAD).

Comment