by

Orangtua Semakin Sulit Atur Anak BDR

Ambon, BKA- Guru SD Inpres 36 Rumah Tiga, Rony Wairisal, mengungkapkan, saat ini, orangtua semakin sulit untuk mengatur anak untuk belajar, sesuai pola pembelajaran Belajar Dari Rumah (BDR) yang diterapkan pemerintah di masa pandemi Covid-19.

Menurutnya, siswa sudah jenuh dengan pola pembelajaran tersebut. Mereka sudah mulai tidak betah berada di rumah setiap hari. Mereka ingin bermain dengan teman-temannya. Sehingga orangtua mulai kesulitan mengatur jam belajar siswa di rumah.

“Itu saya amati sendiri di wilayah tempat tingal saya di Desa Rumah Tiga, bahwa orangtua sulit atur anak-anak mereka untuk belajar, karena sudah bermain seperti biasa. Tidak adalagi yang namanya protokol kesehatan, jaga jarak, dan tetap berada di rumah. Karena setiap mau belajar, orangtua sudah pusing, karena anak tidak ada di rumah,” ungkap Wairisal, (Rabu 11/11).

Untuk itu, Wairisal meminta Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon untuk segera membuka sekolah, agar anak-anak bisa kembali belajar seperti biasa.

Jika PJJ terus berlama-lama, ditakutkan akan memicu berbagai dampak buruk bagi anak. Anak yang diharapkan dapat mengikuti BDR, bisa saja berhenti belajar karena jenuh di rumah.

“Memang masih zona orange, tapi saya kira, dengan kondisi sekarang ini, pemerintah sudah bisa mengambil kebijakan. Karena kondisi dilapangan justru berbeda jauh dari harapan kita. Orangtua nanti yang kesulitan. Akibat jenuh, anak tidak belajar serius, bahkan tidak lagi gunakan protokol kesehatan. Ditakutkan, orangtua gunakan cara-cara yang tidak kita inginkan seperti yang terjadi di daerah lain. Jadi dimintakan kepada pemerintah, dalam hal ini dinas untuk melihat persoalan begini. Kalau sudah bisa belajar tatap muka, mending kita buka sekolah,” pinta Wairisal.

Tidak hanya orangtua, lanjut dia, para guru juga merasa kesulitan akibat dari kejenuhan ini. Berbagai metode pembelajaran sudah diterapkan oleh guru, namun belum mampu menjawab kebutuhan siswa. Misalnya, kelas 1 dan II. Sehinga Ia berharap, agar belajar tatap muka secepatnya dilakukan.

“Khusus yang kelas satu ini paling pusing. Kita tidak tahu mau pakai metode yang bagaimana. Sulit. Tapi toh, kita jalan terus. Yang jadi persoalannya adalah kalau proses ini terus dipaksakan berjalan, apakah siswa tidak kena dampaknya? Saatnya kita upayakan agar belajar tatap muka. Saya kira itu solusi tepat untuk jawab persoalan sekarang ini,” tandas Wairisal. (LAM)

Comment