by

Pasutri Pembunuh Bocah Terancam 20 Tahun

Ambon, BKA- Pasangan suami istri (Pasutri) yang berprofesi sebagai ASN di lingkup Kota Ambon yakni Edy Maunusu dan Maria Kabir alias Mery, terancam penjara selama 20 Tahun karena diduga melakukan penganiayaan bersama mengakibatkan meninggal anak angkatnya yang baru berusia 7 Tahun di rumahnya di Lorong Mayat, Kudamati, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon.

Kasubbag Humas Polresta Pulau Ambon dan Pp Lease, Iptu Izack Leatemia kepada koran ini mengatakan, kedua Pasutri itu sudah ditetapkan sebagai tersangka setelah penyidik mengantongi bukti autopsi dari medis. Keduanya berprofesi sebagai ASN, tersangka Maria merupakan Guru di SD Negeri 82 Ambon, sedangkan Edy merupakan Supir Ambulance RSUD Haulussy.

Kedua tersangka terancam pasal 170, 340, 338 KUHPidana, dengan ancaman 20 Tahun penjara. “Jadi bisa hukuman mereka 20 Tahun ke atas, karena korban ini anak angkat mereka, anggap saja itu anak kandung,” ungkap Leatemia melalui selulernya, Kamis (22/10).

Kemungkinan saat ini, lanjut dia, penyidik masih melakukan pemeriksaan saksi-saksi dalam perkara ini untuk melengkapi berkas Pasutri tersebut. “Mungkin saja penyidik masih periksa saksi tambahan untuk melengkapi berkas kedua tersangka,” pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, Penyidik Satreskrim Polresta Pulau Ambon dan Pp Lease, menemukan bukti yang kuat, setelah mengetahui hasil autopsi yang dilakukan pihak medis terhadap mayat korban, bocah 7 tahun yang dianiaya orang tua angkat dikawasan Kudamati. Dari hasil autopsi, terbukti, ada luka memar yang diduga sebagai penyebab kematian korban.

“Hasil otopsi sudah ada hanya saja kita tunggu laporan resmi otopsi, dari hasil terdapat luka dan memar pada tubuh jenazah antara lain, Memar di punggung, pendarahan di dada kanan dan mata kanan , memar di dagu, pendarahan di telinga kiri dan kanan, pendarahan di hidung, memar di betis kanan, luka robek dibibir atas dan bibir bawah, pendarahan di usus kecil dan memar di paha kiri,”ungkap Kapolresta Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease, Kombes Pol Leo Surya Nugraha Simatupang, dalam keterangan persnya di Mapolresta Ambon Rabu (14/10).
Dikataknya sekalipun hasil menunjukan ada tidakan kekerasan, pihaknya belum dapat menyimpulkan penyebab pasti kematian korban hingga dokter yang melakukan otopsi mengeluarkan laporan resmi.

“Kita masih tunggu kesimpulan dokter apakah ini yang mengakibatkan korban meninggal dunia atau bukan,”pungkasnya.

Ditanya soal motif, Kapolresta mengatakan, dari hasil pemeriksaan kedua tersangka mengaku jengkel dengan sikap korban yang terkesan nakal.

“Kata mereka jengkel karena anak sedikit nakal, ya padahal memang itu sifat anak anak, yang harusnya orang tua bisa pahami,”ujarnya.(SAD)

Comment