by

Pelaku Penggelapan Mobil Akui Bersalah

Ambon, BKA- Hidayat Palembang, terdakwa kasus tindak pidana penipuan dan penggelapan mengakui perbuatannya dipersidangan.
Hal ini ketika dia bersaksi di persidangan lanjutan, yang di gelar di Pengadilan Negeri Ambon, Rabu kemarin, yang dipimpin ketua majelis hakim, Jeny Tulak Cs.

Di hadapan majelis hakim, terdakwa mengakui, kalau telah membuat aksi penipuan dan penggelapan mobil yang dilakukan terhadap korban Adi Yoana.

Setelah mendengarkan keterangan terdakwa, majelis hakim menunda sidang hingga pekan depan untuk agenda tuntutan JPU.

Diketahui dalam berkas dakwaan JPU Secretchil E Pentury, menguraikan, tindak pidana yang dilakukan pemuda 46 Tahun, warga Dusun Bara, Desa Namlea, Kabupaten Buru, Provinsi Maluku ini terjadi, Sabtu 12 Januari 2019 sekitar pukul 10.00 Wit, di Jalan Dermaga Kota Namlea Kabupaten Buru.

Awalnya, terdakwa bersama Adisucipto (DPO), datang menemui korban Adi Yoana membawa satu unit Mobil Hilux Doble Cabil dengan nomor polisi DE8834 di Kantor Cabang PT. Papua Citra Buana Jalan Dermaga Kota Namlea, Rabu 12 Desember 2018 sekitar pukul. 7.00 Wit.

Di sana, terdakwa mengatakan akan menjual mobil karena sedang membutuhkan uang dengan harga Rp. 275 juta.

Lalu korban mengatakan tidak memiliki uang sebanyak itu. Dia bilang hanya memiliki Rp. 100 juta. SehinggaTerdakwa pun membolehkan korban mengambil mobil serta BPKP dengan catatan nantinya korban melunasi sisanya pada Juli 2019.

Setelah mendengar penjelasan itu, korban langsung menyerahkan uang kepada terdakwa sebesar Rp.100 juta. Terdakwa lalu menyerahkan STNK Asli, Buku Kir Asli serta dibuatkan berita serah terima kendaraan diatas meterai 6000 yang ditandatangani oleh terdakwa dan korban.

Saat korban menerima buku STNK, dia melihat nama di STNK Mobil bukan nama terdakwa tapi nama orang lain yakni Timo Gozali. Dia pun menanyakan hal tersebut kepada terdakwa. Terdakwa lalu menyatakan sudah membelinya dari Timo. Terdakwa bahkan menawarkan dirinya akan mengurus pengalihan nama untuk korban.

Selanjutnya, pada Selasa 8 Januari 2019, terdakwa menelpon korban yang sedang berada di Jakarta. Terdakwa meminta kepada korban untuk mengirimkan sisa uang penjualan mobil tersebut sebesar Rp.175 juta. Lalu dijawab korban akan dilunasi pada bulan Juli. Karena terdakwa mengatakan ada keperluan mendesak, korban pun mentransfer uang Rp. 25 juta ke rekening terdakwa.

Selanjutnya, pada 12 Januari 2019, terdakwa datang ke kantor korban untuk mengambil mobil. Saat itu, korban masih berada di Jakarta. Terdakwa mengambil kunci mobil dan mengatakan uang yang sudah terbayar sebagai uang sewa lalu membawa pergi mobil.

Atas kejadian tersebut, korban mengalami kerugian senilai Rp. 200 juta. (SAD)

Comment