by

Pemda Didesak Evaluasi Harga Rapid Antigen

Menyusul adanya lonjakan harga rapid antigen jelang lebaran Idul Fitri 1442 H (2021), Pemerintah Provinsi Maluku didesak melakukan evaluasi untuk tetapkan biaya rapid antigen satu harga di Maluku.
Anggota DPRD Maluku, Anos Yermias, lewat rilisnya kepad koran ini, Kamis (6/5) mengaku, di tengah pandemi, Pemerintah Provinsi maupun Kota Ambon harus menetapkan biaya Rapid Antigen satu harga.

Karena menurutnya, masyrakat sudah sangat kesulitan dari sisi ekonomi di masa pandemi ini. Sehingga jelang lebaran, janganlan pemerintah membebani lagi masyarakat dengan biaya rapid antigen yang mencekik masyarakat. “Jangan karena harus mencegah adanya mudik, sehingga masyarakat harus jadi korban,” pesannya.

Menurutnya, pemerintah daerah harus menetapkan biaya yang pasti terhadap rapid antigen, baik untuk pelaku perjalanan maupun kebutuhan lain.
“Selama tahun 2020, Beta (saya) lakukan rapid test antigen untuk pelaku perjalanan dari Ambon ke Kabupaten Kepulauan Tanimbar (KKT) dan Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) yang bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Ambon,” sebutnya.

Dimana hal itu, lanjut dia, dilakukan lansung pada empat puskesmas yang di tunjuk Dinas Kesehatan Kota Ambon. Mulai dari tanggal 31 Desember 2020 lalu, dengan jumlah warga yang dirapid sebanyak 4.537 orang.

Hal yang sama juga dilakukannya di tahun ini, sejak sejak bulan Januari. Meskipun dengan harga cukup mahal, tetapi setiap kapal yang berangkat kurang lebih 15 orang dibantu rapid atigen, agar mempermudah masyarakat dari KKT dan MBD yang mau pulang kampung.

“Tiga hari lalu 3 Mei 2021, Beta beli alat rapid antigen 5 dos. 1 dos isi 25 set 1,6 juta lebih. Berarti harga satuan 66 ribu per set. Beta minta tolong dinas kesehatan rapid warga masyarakat yang pulang ke Banda, Tual, Karat, Tutukembong, Saumlaki, Tepa, Lakor, Moa, Letto dan Kisar. Ternyata harga jauh lebih murah,” beber Yermias.
Dikatakan, setelah Pemerintah Provinsi Maluku dan Kota Ambon bisa mengeluarkan keputusan tentang tarif Rapid Antigen, maka hal tersebut sudah bisa membantu masyarakat pelaku perjalanan maupun untuk kebutuhan lainnya dengan harga yang pasti.

“Sebab kalau masyarakat sendiri ke RS Swasta, sudah pasti biayanya diatas harga 200 ribu rupiah. Sehingga yang untung itu RS swasta yang melakukan rapid antigen bagi setiap pelaku perjalanan dalam wilayah Provinsi Maluku. Karena yang korban itu masyarakat kecil yang bepergian dalam wilayah Maluku,” pungkasnya. (RHM)

Comment